Tampilkan postingan dengan label PUASA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUASA. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 September 2009

FATWA-FATWA RAMADHAN :سلسلة المنتقى من فتاوى الشيخ العلامة مقبل بن هادي الوادعي

Penyusun : Abu Malik al-Maqthary Abu Thalhah al-Duba'i
Terjemah : Ibnu Abi Yusuf
Editor : Abu Hamzah & Abu Ziyad

:: Kapan waktu niat::
Pertanyaan
Apakah kita wajib berniat puasa Ramadhan setiap malam harinya, ataukah cukup satu kali niat saja di awal Ramadhan untuk sebulan penuh?

Jawaban
Nabi bersabda: “Setiap amalan bergantung pada niat dan setiap orang (akan mendapatkan) sesuai dengan apa yang ia niatkan.” Ini adalah dalil tentang keharusan niat dalam setiap amal. Bagi orang yang hendak berpuasa, ia harus berniat di setiap malam harinya. Tetapi, bukan berarti ia harus mengucapkan: “Nawaitu… untuk berpuasa pada besok hari di bulan Ramadhan.” Niat adalah maksud atau tujuan. Bangunmu untuk melaksanakan sahur dianggap sudah berniat, demikian juga suapanmu berupa makanan atau minuman untuk tujuan berpuasa besoknya juga sudah berarti niat. Adapun hadits yang mengatakan: “Barangsiapa yang tidak berniat malam hari, maka tidak sah puasanya,” ini adalah Hadits Mudhtarrib. Walaupun sebagian ulama menganggap ini adalah Hadits Hasan, tapi yang benar adalah Hadits Mudhtarrib.

Hadits Mudhtarrib adalah hadits yang datang dari banyak jalan dan berbeda-beda lafazhnya sehingga tidak bisa untuk dirajihkan, dan Hadits Mudhtarib ini termasuk kategori Hadits Dhaif.


:: Apa yang harus kita lakukan apabila mengetahui masuk bulan Ramadhan justru setelah terbit fajar? ::
Pertanyaan
Apabila seseorang bangun tidur setelah terbit fajar pada hari pertama di bulan Ramadhan, lalu ia sarapan. Sementara itu, ia belum mengetahui kalau hari itu adalah sudah masuk awal bulan Ramadhan. Ia diberitahukan tentang hal itu justru setelah sarapan. Apakah ia harus berpuasa pada hari itu?

Jawaban
Ya.. Ia wajib berpuasa pada hari itu dan tidak ada mudharat baginya walaupun ia baru saja sarapan karena ia baru diberitahu tentang masuknya awal Ramadhan pada pagi hari itu.


:: Puasa sehari sebelum Ramadhan karena ragu ::
Pertanyaan
Apakah boleh bagi seorang yang ragu akan awal masuknya bulan Ramadhan untuk berpuasa sehari sebelumnya?

Jawaban
Dari kalangan Al-Hanabilah (pengikut madzhab Ahmad bin Hanbal, pentj.) ada yang berpendapat seperti itu, tetapi yang benar adalah tidak dibolehkan puasa Ramadhan sebelum waktunya, sebagaimana sabda Nabi: “Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan berpuasa sehari sebelumnya atau dua hari sebelumnya.” Sahabat Ammar bin Yasir berkata: “Barangsiapa yang berpuasa pada hari syakk (ragu-ragu), maka berarti ia telah bermaksiat kepada Abu al-Qasim.” Maka, menurut pendapat yang shahih adalah tidak boleh berpuasa sebelum waktunya. Nabi bersabda: “Berpuasalah kalian dengan melihat ru’yah dan berbukalah dengan melihat ru’yah. Jika tertutupi awan maka sempurnakanlah hitungan Sya’ban 30 hari.”

:: Puasa Wishal (Berpuasa Kembali Setelah Berbuka) ::
Pertanyaan
Apabila seseorang tertidur dan belum berbuka dan ia tidak bangun dari tidurnya kecuali pagi hari yang kedua. Apakah boleh untuk melanjutkan puasanya atau harus berbuka?

Jawaban
Wajib baginya untuk meneruskan puasanya. Hal yang demikian itu pernah terjadi pada Qais bin Sarmah. Ia pergi bekerja dan waktu itu tepat permulaan diwajibkannya puasa. Apabila ia tertidur sebelum makan, maka ia tidak membolehkan dirinya untuk makan, kemudian ia pulang ke istrinya dan bertanya: “Apakah ada makanan?” Istrinya menjawab, “Tidak ada, tetapi aku akan pergi memintakan makanan untukmu.” Setelah istrinya kembali, ternyata ia sudah tertidur lalu istrinya berkata, “Engkau telah rugi,” atau ucapan yang semakna dengan ini. Kemudian Qais pergi bekerja lagi sampai pertengahan hari dan kemudian tertidur lagi. Kemudian Allah SWT menurunkan ayat: “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu, mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, … sampai firman-Nya…."Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar."

::Yang Harus Dilakukan Saat Sahur Ketika Terdengar Adzan Subuh ::

Pertanyaan
Apabila seseorang sedang makan sahur, kemudian terdengar adzan subuh, apakah ia harus mengeluarkan makanan yang ada di mulutnya atau ia boleh menelannya?

Jawaban
Makanan yang ada di mulutnya boleh ditelan, tetapi ia tidak boleh lagi menambahnya dengan makanan yang tersisa di piring, dan ia pun masih dibolehkan minum. Hal ini berdasarkan hadits sunan Abu Dawud dari Abu Hurairah bahwa Nabi bersabda: “Apabila muadzin telah mengumandangkan adzan, sedangkan bejana masih dalam tangan seseorang, maka hendaklah ia mengambil untuk keperluannya.” Berdasarkan hadits ini, seseorang masih boleh minum apabila telah dikumandangkan adzan dengan syarat air tersebut masih dipegangnya.

:: Adakah Keutamaan Meninggal Dunia pada Bulan Ramadhan ::

Pertanyaan
Adakah terdapat keutamaan bagi seseorang yang meninggal dunia pada bulan Ramadhan?

Jawaban
Ya, memang ada, tetapi tidak ada hadits yang menunjukkan tentang hal ini.

:: Yang Harus Dilakukan Wanita Hamil atau Menyusui Apabila Tidak Berpuasa ::

Pertanyaan
Apa hukumnya seorang perempuan yang hamil jika ia tidak berpuasa di bulan Ramadhan karena takut akan keselamatan janinnya akan terganggu. Apa pula hukumnya bagi seorang wanita yang menyusui, jika ia tidak berpuasa di bulan Ramadhan karena takut akan bayinya akan kekurangan gizi?

Jawaban
Para ulama berselisih pendapat tentang hal ini. Sebagian mereka mengatakan wajib bagi wanita tersebut untuk mengqadha puasanya. Sementara sebagian yang lain mengatakan selain wajib menqadha ia juga wajib membayar kafarah. Sebagiannya lagi mengatakan tidak ada kewajiban qadha tetapi ada kewajiban kafarah. Sementara sebagian lagi mengatakan tidak ada kewajiban baginya baik qadha maupun kafarah. Mereka ini berdalil dengan hadits Anas bin Malik Al-Ka’bi bahwasanya beliau datang kepada Nabi. Kemudian Nabi mengatakan kepadanya, “Makanlah!” Anas bin Malik menjawab: “Aku dalam keadaan berpuasa.” Lalu Nabi berkata: “Apakah engkau tahu bahwasanya Allah ta’ala menggugurkan setengah shalat atas orang yang musafir (boleh menqashar) dan menggugurkan kewajiban puasa bagi wanita yang hamil atau menyusui.”
Maka mereka berdalil dengan ini, bahwasanya tidak ada kewajiban apapun baginya. Aku sendiri berpendapat bahwa wajib bagi wanita tersebut menqadha puasanya dan ia tidak wajib membayar kafarah. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala: “Barangsiapa di antara kalian sakit atau mengadakan suatu perjalanan, maka gantilah (puasanya) pada hari-hari yang lainnya.”


:: Datang Haidh sebelum Maghrib ::
Pertanyaan
Bagaimana hukumnya bagi seorang wanita yang sedang berpuasa mendapat haidh menjelang saat berbuka?

Jawaban
Wajib baginya untuk membatalkan puasanya, dan menqadhanya sebanyak puasa yang ditinggalkannya. Adapun apabila haidnya datang setelah terbenam matahari, maka puasanya pada hari itu sah dan tidak wajib baginya untuk menqadha.


:: Tidak Berpuasa bagi Wanita Hamil atau Melahirkan ::
Pertanyaan
Apa hukumnya seorang wanita yang tidak berpuasa di bulan Ramadhan karena hamil atau melahirkan?

Jawaban
Wajib baginya untuk menqadha sejumlah puasa yang ditinggalkannya.

:: Berbuka Karena Keluar Darah Sebelum Melahirkan ::

Pertanyaan
Apa pula hukumnya bagi wanita, jika ia tidak berpuasa sehari atau dua hari sebelum melahirkan disebabkan karena keluarnya sebagian darah?

Jawaban
Jika keluar sebagian darah, maka ini dianggap sebagai darah nifas dan ia tidak wajib berpuasa, tetapi wajib baginya menqadha sejumlah puasa yang ditinggalkannya.

:: Berbuka Karena Sakit Bertahun-Tahun ::

Pertanyaan
Bagimana hukumnya orang yang tidak berpuasa disebabkan karena sakit yang terus menerus bertahun-tahun?

Jawaban
Apabila seseorang ditetapkan oleh ahli medis bahwasanya ia tidak mungkin lagi sembuh, maka ia boleh tidak berpuasa, tetapi ia atau keluarganya wajib dan memberikan fidyah makanan setiap harinya kepada orang miskin, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “…dan bagi orang-orang yang tidak mampu hendaknya membayar fidyah dengan memberikan makanan kepada orang miskin.” Diriwayatkan bahwa ketika Anas bin Malik tidak mampu untuk melaksanakan puasa, maka beliau memberikan makanan setiap harinya kepada orang miskin.




:: Memakai Siwak dan Sikat Gigi/Pasta Gigi ::
Pertanyaan
Apa hukumnya bersiwak atau menggososk gigi menggunakan odol pada siang hari di bulan Ramadhan?

Jawaban
Adapun bersiwak dibolehkan, sementara menggosok gigi menggunakan odol, kami menyarankan untuk meninggalkannya pada siang hari bulan Ramadhan. Walaupun kami tidak memiliki dalil bahwa hal itu dapat membatalkan puasa, akan tetapi kita harus berhati-hati sehingga tidak sampai masuk sesuatu ke dalam perut ketika kita berpuasa. Nabi bersabda: “…dan sempurnakanlah pada waktu istinsyaq kecuali dalam keadaan berpuasa.” Karena sesungguhnya apabila seseorang dalam keadaan berpuasa maka dikhawatirkan akan masuk air ke dalam perutnya.

:: Memakai Wangi-wangian dan Cologne ::
Pertanyaan
Bagimana pula hukum memakai wangi-wangian dengan segala macam aromanya seperti al-Bukhur, al-’Uud, dan wangi-wangian masa kini yang aromanya semerbak?

Jawaban
Selama berpuasa boleh saja memakai wangi-wangian dan bukhur. Tetapi, seyogianya seseorang untuk menjauhi wangi-wangian yang mengandung alkohol baik pada bulan Ramadhan maupun di luar bulan Ramadhan. Lebih khusus lagi, hindarilah pemakaian jenis kolonia (cologne), karena sesungguhnya hal ini telah diyakini mengandung alkohol.




:: Memakai Obat Tetes Mata, Telinga, dan Hidung ::
Pertanyaan
Demikian juga, apa hukumnya memakai obat-obatan luar badan berupa obat tetes mata, telinga atau hidung?

Jawaban
Selama obatan-obatan tersebut di atas tidak tertelan, maka dibolehkan bagi sesorang yang sedang berpuasa untuk memakainya.
Terlepas dari masalah di atas, saya katakan sesungguhnya keluar dari perkara ini adalah bagi orang yang sakit keras, maka ia diperbolehkan untuk berbuka sesuai dengan firman Allah Ta’ala, “Barangsiapa yang di antara kalian dalam keadaan sakit atau bepergian, maka hendaknya diganti dengan hari-hari yang lainnya.” Dengan demikian, apabila sesorang sakit sementara ia membutuhkan pengobatan, maka kami nasehatkan supaya tidak berpuasa tetapi ia wajib menqadhanya apabila sudah sembuh dari penyakitnya.

:: Memakai Suntikan ::
Pertanyaan
Apa hukumnya memakai suntikan ketika kita berpuasa?

Jawaban
Sebahagian ulama mengatakan bahwa apabila suntikannya ini terbukti memberikan tenaga atau mengandung bahan makanan seperti infus, maka puasanya menjadi batal. Seperti yang telah kami sarankan di atas, bahwa orang yang sakit supaya tidak berpuasa sehingga tidak terdapat hal-hal yang syubhat dalam puasanya. Kemudian setelah sembuh, ia wajib menqadhanya.




:: Mencabut Gigi ::
Pertanyaan
Bagimana hukum mencabut gigi bagi orang yang berpuasa yang kadang-kadang menyebabkan pada air liurnya terdapat darah?

Jawaban
Air liur yang mengandung darah yang berasal dari dirinya sendiri, hal ini tidaklah membatalkan puasa. Jika sekiranya ditunda mencabut giginya setelah berbuka puasa, maka hal ini lebih baik karena kadang-kadang ditakutkan akan membahayakan seseorang, jika ia mencabut giginya dalam keadaan berpuasa.

:: Orang Pingsan atau Muntah ::
Pertanyaan
Apa pula hukumnya bagi orang yang berpuasa tiba-tiba pingsan atau muntah?

Jawaban
Orang yang berpuasa sementara ia pingsan, maka hal itu tidak dikategorikan sebagai hal yang membatalkan berpuasa. Demikian juga halnya dengan orang yang muntah, tidaklah membatalkan puasa. Adapun hadits yang menyatakan: “Barangsiapa yang muntah maka tidak ada qadha baginya dan barangsiapa yang sengaja muntah maka hendaknya ia menqadha,” ini adalah hadits yang lemah.

:: Berenang dan Menyelam ::
Pertanyaan
Apa hukumnya berenang dan menyelam bagi orang yang berpuasa?

Jawaban
Dibolehkan berenang dan menyelam bagi orang yang berpuasa, asalkan tidak ada sesuatupun yang masuk ke dalam tenggorokannya. Akan tetapi, berenang di lautan berbeda keadaannya. Air asin sangat memungkinkan sekali akan masuk ke dalam tenggorokan. Kami pernah berenang di lautan, dan seorang teman tanpa disadarinya merasakan asin di dalam tenggorokannya. Oleh karena itu, kami menasehatkan untuk menjauhi hal ini.

:: Mencicipi Masakan ::
Pertanyaan
Apa hukumnya bagi orang yang berpuasa mencicipi masakan dengan ujung lidahnya?

Jawaban
Hal tersebut dibolehkan bagi orang yang berpuasa, asal jangan sampai ada sesuatupun yang masuk ke dalam tenggorokannya.

:: Menggunakan Bahan Oksigen ::
Pertanyaan
Apa pula hukumnya menggunakan bahan oksigen bagi seseorang yang sedang berpuasa menderita penyaki sesak nafas?

Jawaban
Oksigen bukanlah termasuk makanan atau minuman, oleh karena itu penggunaannya dibolehkan bagi orang yang berpuasa.

:: Kafarat atas Suami yang Berjima' ::
Pertanyaan
Apakah kafarat atas orang yang berpuasa melakukan jima’ pada siang hari bulan Ramadhan?

Jawaban
Ada dua hadits dari Aisyah dan Abu Hurairah dan keduanya adalah Shahih. Bahwasanya salah seorang laki-laki datang menemui Rasulullah dan berkata, “Wahai Rasulullah aku telah binasa.” Kemudian Rasulullah bertanya: “Apa yang telah membuatmu binasa?” Kemudian ia menjawab: “Aku telah berjima’ dengan istriku siang hari di bulan Ramadhan.” Dalam hadits Abu Hurairah diceritakan bahwa seorang laki-laki berkata: “Ya Rasulullah, aku telah binasa.” Lalu Beliau bertanya: “Apa yang telah membuat engkau binasa?” Kemudian orang itu menjawab: “Aku telah berjima’i dengan istriku di siang hari bulan Ramadhan.” Lalu Rasulullah berkata: “Apakah engkau punya budak untuk dimerdekakan?” Orang itu menjawab: “Tidak.” Kemudian Rasulullah bertanya lagi: “Apakah engkau mampu untuk berpuasa dua bulan terus menerus?” Ia menjawab: “Tidak.” Kemudian Rasulullah bertanya kembali: “Apakah engkau mampu untuk memberi makan 60 orang miskin?” Laki-laki tadi menjawab: “Tidak, Ya Rasulullah.” Kemudian ia duduk, sementara Rasulullah pergi. Tidak lama kemudian, Beliau datang kembali sambil membawa satu karung kurma, lalu berkata: “Ambillah ini dan engkau bershadaqah dengan ini!”. Kemudian laki-laki itu menjawab: “Ya Rasulullah, tidak ada yang lebih faqir dari aku – demi Allah – di antara dua kota ini.” Kemudian Rasulullah tersenyum dan berkata: “Ambillah ini, dan beri makanlah keluargamu!” Atau dengan kata lain, apabila ia sanggup hendaklah ia memerdekakan budak, jika tidak memiliki budak maka berpindah pada kewajiban berpuasa dua bulan berturut-turut dan tidak boleh berpindah kepada memberikan makanan jika dia mampu untuk melakukan puasa. Karena sesungguhnya memberikan makanan ini sangat mudah bagi orang-orang kaya sedangkan berpuasa dua bulan berturut-turut terdapat di dalamnya masyaqqah (kesulitan/keberatan).

:: Kafarat bagi Istri yang Berjima' ::
Pertanyaan
Apa pula hukumnya atas seseorang istri apabila jima’ tersebut dengan keridhaannya dan ia pun tidak mencegah suaminya melakukan hal itu?


Jawaban
Apabila hal ini timbul dari keinginan si istri, maka ia pun turut berdosa, dan ia wajib membayar kafarah. Rasulullah pernah mengatakan kepada seorang laki-laki: “Perintahlah istrimu, jika ia ridha untuk mengerjakan hal itu (yaitu membayar kafarah).” Apabila si perempuan itu yang menyebabkan suaminya mencumbuinya sehingga terjadi jima’, maka si perempuan itu berdosa, tetapi apabila ia dipaksa, maka dosa dikembalikan kepada suaminya.

:: Tidak Mengetahui Hukum Berjima’ ::
Pertanyaan
Apa yang harus dilakukan oleh orang yang berjima’, sedangkan ia tidak tahu hukumnya?

Jawaban
Setelah orang tersebut tahu hukumnya walaupun setelah beberapa tahun kemudian, ia tetap harus membayar kafarah sebagaimana telah disebutkan sebelumnya karena sesungguhnya hadits tentang ini adalah mutlak.

:: Mencumbui Istri ::
Pertanyaan
Apa hukumnya orang yang memeluk istrinya dan menciumnya di siang hari bulan Ramadhan, tetapi tidak sampai berjima’?

Jawaban
Aisyah berkata: “Bahwasanya Nabi pernah memeluk dan menciumnyanya di siang hari bulan Ramadhan.” Kemudian Aisyah mengatakan: “Siapa di antara kalian yang paling dapat menahan kebutuhannya?” Ummu Salamah pun pernah mengatakan bahwasanya Nabi menciumnya di siang hari bulan Ramadhan. Aisyah mengatakan bahwasanya Nabi adalah orang yang paling dapat menahan kebutuhannya. Apakah Ummul Mu’minin ini termasuk orang yang paling dapat menahan kebutuhannya ataukah tidak, yang jelas bahwasanya hal itu boleh saja. Tetapi, apabila ditakutkan akan sampai terjadi jima’, maka wajib baginya untuk meninggalkan hal itu.


:: Ihtilam (Mimpi Basah) di Siang Hari Ramadhan ::
Pertanyaan
Apa hukumnya seseorang apabila ia bermimpi basah pada siang hari bulan Ramadhan?

Jawaban
Mimpi basah tidak membatalkan puasa. Ia wajib mandi sebagai syarat sah untuk melaksanakan shalat.


:: Shalat dan Puasa setelah Ihtilam ::
Pertanyaan
Aku pernah bermimpi basah pada siang hari bulan Ramadhan, sementara aku tidak tahu apakah aku bermimpi pada hari pertama ataukah hari kedua. Aku baru mengetahuinya setelah mengganti celana dalam beberapa hari kemudian. Bagaimana hukum shalat dan puasaku selama itu?

Jawaban
Baik shalat maupun puasa kedua-duanya sah. Begitu engkau mengetahuinya, hendaklah segera mandi. Nabi bersabda: "Sesungguhnya Allah Ta’ala memberikan keringanan atas umatku dari kesalahan dan kelupaan dan apa-apa yang ia terpaksa atasnya." Dalam hal ini, engkau dikategorikan sebagai orang yang lupa, maka tidak ada sesuatu hukum apapun bagimu, insya Allah. Engkau tidak diharuskan untuk menqadha baik itu puasa maupun shalat karena sesungguhnya qadha dalam hal puasa itu sudah diketahui yaitu apabila sakit atau dalam perjalanan, demikian pula bagi perempuan yang haidh. Nabi bersabda: “Barangsiapa yang tertidur dan belum melaksanakan shalat atau ia lupa, maka waktunya adalah ketika ia mengingatnya.”


:: Berbuka di Rumah bagi Orang yang akan Bepergian ::
Pertanyaan
Apakah dibolehkan bagi seorang yang bepergian di bulan Ramadhan untuk tidak berpuasa terlebih dulu sebelum berangkat dari rumahnya?

Jawaban
Diperbolehkan bagi orang yang punya azzam (niat) untuk bepergian jauh untuk tidak berpuasa atau makan terlebih dahulu di rumahnya sebelum ia berangkat keluar meninggalkan rumah. Dalil yang menunjukkan akan hal ini adalah dari shahabat Anas bin Malik, bahwasanya ketika beliau hendak bepergian jauh, diberikan kepadanya makanan, lalu dimakannya. Beliau mengatakan tentang hal itu, bahwasanya Rasulullah pernah melakukannya. Masalah seperti ini terdapat di dalam kitab Shahih al-Musnad Mimma Laisa fi al-Shahihain. Syaikh Al-Albani pun pernah menulis satu risalah tentang hal ini. Adapun perbedaan antara puasa dan shalat adalah bahwa sesungguhnya orang yang berpuasa diperbolehkan baginya untuk tidak berpuasa sejak dari rumahnya apabila ia telah bersiap-siap untuk bersafar. Berbeda dengan orang yang shalat yang tidak diperbolehkan baginya untuk menqasharnya sehingga ia telah keluar terlebih dahulu dari kampungnya. Anas bin Malik pernah meriwayatkan bahwasanya Rasulullah shalat Dzuhur di masjidnya empat raka’at, kemudian Beliau shalat di Dzul Hulaifah dua raka’at. Hal ini menunjukkan perbedaan perlakuan antara puasa dan shalat.


:: Waktu, Tempat, dan Rakaat Shalat Tarawih Sesuai Sunnah ::
Pertanyaan
Di tempat kami sangat banyak sekali masjid, sebagian jamaahnya melaksanakan shalat Tarawih 8 rakaat dan sebagian lagi 20 rakaat. Sebagiannya memanjangkan bacaan shalat dan sebagian lagi memendekkannya. Masjid manakah yang benar yang sesuai dengan perbuatan Nabi?

Jawaban
Jika kalian mampu maka hendaknya kalian melaksanakan shalat Tarawih di masjid pada pertengahan malam atau sepertiga malam terakhir dengan sebelas raka’at atau tiga belas raka’at sebagaimana dalam hadits Aisyah bahwasanya Rasulullah tidak menambah raka’at pada bulan Ramadhan melebihi sebelas rakaat. Ada pula riwayat yang mengatakan Beliau shalat Tarawih tiga belas rakaat. Saya menyarankan untuk mengakhirkan shalat tarawih pada pertengahan malam atau sepertiga malam terakhir. Nabi bersabda: ”Barangsiapa yang takut akan tertidur pada akhir malam, maka hendaknya ia witir pada awalnya, dan barangsiapa yang menginginkan untuk bangun di akhir malam maka hendaknya witir pada akhir malam, karena sesungguhnya shalat pada akhir malam adalah disaksikan.” Diriwayatkan bahwa ketika Umar keluar rumah, beliau mendapati Ubay bin Ka’ab sedang melaksanakan shalat bersama orang banyak. Kemudian ia berkata, “Alangkah nikmatnya satu hal yang baru ini dan orang-orang yang tertidur darinya juga tidak mengapa.” Maka, apabila mereka mampu untuk pergi ke masjid kemudian menegakkan sunnah di sana (di dalamnya) dan melaksanakan shalat pada pertengahan malam atau setelahnya dengan sebelas rakaat dan mereka memanjangkannya sesuai dengan kemampuannya. Karena sesungguhnya shalat malam adalah nafilah dan bukan termasuk shalat yang fardhu. Nabi bersabda: “Sesungguhnya aku akan masuk (atau baru mulai) dalam shalat maka aku menginginkan untuk memanjangkannya, akan tetapi aku tidak meneruskannya karena/ketika aku mendengar suara tangisan seorang bayi karena kasihan pada ibunya.” Nabi mengatakan kepada Muadz bin Jabal, “Apakah engkau telah membuat fitnah, wahai Muadz?” Yaitu disebabkan karena ia telah memanjangkan bacaan shalatnya. Rasulullah mengatakan juga: “Apabila salah seorang di antara kalian shalat sendiri, maka hendaknya memanjangkan sekehendaknya dan apabila ia shalat bersama orang lain atau bersama jamaah maka hendaklah ia meringankannya karena di antara mereka ada yang lemah, ada yang sakit dan ada yang memiliki kebutuhan.” Maka ini semua adalah di dalam shalat yang fardhu, adapun di dalam shalat nafilah, maka tidak wajib, bahkan seseorang boleh melaksanakan shalat sekehendaknya dan boleh bagi ia untuk beristirahat dari satu rakaat menuju kepada rakaat yang lainnya atau ia pergi dulu ke rumahnya. Jika seseorang mampu untuk melaksanakan shalat Tarawih di rumahnya, ini juga afdhal. Karena Nabi bersabda ketika Beliau shalat bersama jamaah dua malam atau tiga malam di bulan Ramadhan, Beliau mengatakan: ”Shalat yang paling afdhal bagi seseorang adalah di rumahnya, kecuali shalat yang wajib atau fardhu.” Bahwa yang paling afdhal shalat bagi seseorang adalah di rumahnya, kecuali shalat yang wajib. Walaupun sebagian orang mengatakan bahwa engkau telah menepati sunnah yang muakkadah dikarenakan menyelisihi Syi'ah, karena sesungguhnya mereka melihat bahwa shalat tarawih itu adalah bid’ah. Maka kita tidak menyepakati mereka akan tetapi kita menginginkan untuk menyepakati atau sesuai dengan hadits Rasulullah dan apabila ditakutkan tertidur ataupun kalau shalat sunat di dalam rumah akan terganggu oleh anak-anaknya atau oleh yang lainnya, maka kami sarankan untuk shalat sunat di masjid.





:: Shalat di Belakang Imam Tarawih 20 Raka'at ::
Pertanyaan
Apabila aku shalat Tarawih di masjid yang imamnya memimpin shalat dengan dua puluh rakaat, manakah yang lebih utama, apakah aku ikut bersamanya dalam rangka mengikuti imam ataukah aku shalat delapan raka’at lalu aku witir sendirian kemudian keluar?

Jawab
Saya sarankan hendaknya engkau shalat delapan raka’at saja dan kemudian engkau shalat witir sendirian. Maka sesungguhnya mengikuti sunnah Rasulullah adalah lebih utama, karena Nabi mengatakan: “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku melaksanakannya.”

:: Bolehkah Shalat Tarawih di Rumah ::
Pertanyaan
Apakah dibolehkan bagi seseorang untuk melaksanakan shalat Tarawih bersama keluarganya di rumah?

Jawaban
Boleh saja, dan hal itu adalah afdhal sebagaimana telah disebutkan di atas.


:: Wanita Pergi ke Tempat Shalat Tarawih dengan Memakai Wangi-wangian ::
Pertanyaan
Apa hukumnya seorang wanita berdandan dan memakai wangi-wangian untuk pergi melaksanakan shalat Tarawih berdasarkan keyakinan bahwa ini adalah sebagai realisasi dari firman Allah Ta’ala, "Ambillah (pakailah) perhiasan-perhiasanmu pada setiap kali ke masjid."?

Jawaban
Nabi memberikan rukhshah kepada para wanita untuk keluar menuju ke masjid pada shalat Isya’ dengan syarat mereka keluar dengan memakai (atau menutupi) seluruh tubuhnya, yaitu mereka memakai pakaian yang tidak tembus pandang dan tidak pula memakai wangi-wangian. Abu Hurairah meriwayatkan bahwasanya Nabi bersabda: “Perempuan mana saja yang keluar dalam keadaan memakai wangi-wangian dengan tujuan supaya orang-orang mendapatkan baunya, maka berarti ia telah berzina.”

:: Mematikan Lampu pada Waktu Shalat Supaya Menambah Kekhusyu'an ::
Pertanyaan
Kami mematikan lampu pada waktu shalat Tarawih untuk menambah kekhusyuan. Bagaimana pendapat Syaikh tentang hal ini dan apakah ia termasuk perbuatan bid’ah?

Jawaban
Hal ini tidak sampai kepada perbuatan bid’ah dan bukan pula merupakan suatu yang sunnah. Apabila seseorang merasa lebih khusyu' dengan memejamkan kedua matanya dan mematikan lampu, bahkan akan menjauhkannya dari sifat riya’, maka hal ini dibolehkan. Walaupun memang bahwasanya manusia berbeda pendapat dalam hal ini. Ada yang suka shalat dengan mematikan lampu, dan mungkin yang lain tidak menyukainya. Maka, kami sarankan untuk shalat dalam keadaan biasa dan sewajarnya.

:: Tentang Hadits: “Tidak Ada I’tikaf Kecuali di Tiga Masjid” ::
Pertanyaan
Bagaimana pendapat Syaikh tentang hadits: “Tidak ada i’tikaf kecuali di tiga masjid”?


Jawaban
Sebagian di antara ulama ada yang menganggap bahwa hadits tersebut adalah mauquf kepada Hudzaifah dan sebagian yang lain ada yang mengatakan bahwa sesungguhnya Hudzaifah berkata kepada Abdullah bin Mas’ud: “Bahwa sesungguhnya orang-orang itu melaksanakan shalat antara engkau dan antara ini dan itu.” Dan tampaknya mereka semuanya berada di Kufah. Maka Abdullah ibn Mas’ud berkata: “Barangkali merekalah yang benar sedang engkau yang salah.” Mereka (sebagian ahli ilmu) mengatakan, jika sekiranya hadits ini marfu’ maka tidak mungkin Abdullah ibn Mas’ud berani untuk mengatakan kepada Hudzaifah, “Barangkali mereka yang benar dan engkau yang salah.” Dan jika sekiranya hadits ini benar (shahih) maka tafsirannya adalah bahwa: “Tidak ada i’tikaf yang lebih afdhal dari pada di tiga masjid.” Oleh karena itu, maka ini menjadi dalil keutamaan i’tikaf di tiga masjid ini seperti yang telah terdapat dalil-dalil yang menyebutkan tentang keutamaan shalat di tiga masjid. Dan kalau tidak demikian maka ayat juga datang secara mutlak yaitu, “Dan janganlah kalian menggauli istri-istrimu sedang kalian beri’tikaf di masjid.” Dan tidak terdapat keterikatan (pengkhususannya) dengan tiga masjid, lagi pula hadits ini adalah idhthirab, terdapat di dalamnya kadang-kadang Hudzaifah meriwayatkannya mauquf dan pada riwayat lain meriwayatkannya dengan marfu’, maka jauhlah dari amalan-amalan kaum muslimin. Aku juga mengetahui bahwa ada sebagian saudara-saudara yang telah menuliskan risalah tentang hal ini, tetapi tidak semestinya untuk menyempitkan manusia (kaum muslimin) dengan sesuatu apapun yang Allah Ta’ala telah berikan keluasan kepada mereka.

:: Puasa bagi Orang Lanjut Usia (Lansia) yang Sudah Pikun ::
Pertanyaan
Seorang yang sudah lanjut usianya dan sudah berubah akalnya dengan sebagian perubahan-perubahan, kemudian ia meninggal dan ia punya hutang puasa dua kali bulan Ramadhan, sedangkan ia tidak mengetahui Ramadhan dari selainnya disebabkan karena terjadi hilang ingatan/akalnya. Apakah ada kewajiban anaknya atau ahli warisnya untuk memberikan makanan sebagai menggantikan puasa ataukah harus dengan berpuasa pula?

Jawaban
Orang yang dalam keadaan seperti ini termasuk golongan orang yang diberikan rukhshah. Nabi bersabda: “Diangkat pena (tidak dikenakan hukum) dari tiga golongan: orang yang gila sehingga ia sembuh, anak kecil sehingga di baligh dan dari orang yang tertidur sehingga ia bangun kembali.”

:: Onani di Bulan Ramadhan ::
Pertanyaan
Apa hukumnya orang yang melakukan onani di bulan Ramadhan, apakah hukumnya sama dengan hukum orang yang menjima’?

Jawaban
Orang tersebut yang jelas berdosa. Adapun ia tidak dituntut untuk memberikan kafarah, sedangkan tentang dosanya Nabi bersabda yang meriwayatkannya dari Rabb-nya, “…meninggalkan makanannya, minumannya dan syahwatnya karena aku.” Dan tidak ada pula atasnya kewajiban untuk mengqadha karena sesungguhnya mengqadha itu tidak ada kecuali dengan dalil. Sedangkan dalil terdapat pada orang-orang yang musafir dan yang sakit apabila ia tidak berpuasa, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan maka hendaknya mengganti puasanya pada hari yang lainnya.” Demikian pula dengan wanita yang haidh, ia hendaknya menqadha puasa dikarenakan hadits Aisyah dalam Shahihain. Juga orang yang menyusui dan yang hamil apabila ia tidak berpuasa diwajibkan untuk menqadha dikarenakan hadits Anas bin Malik Al-Ka’bi.

:: Tahlil, Takbir, Tahmid Setelah Imam Membacaan Surat Adh-Dhuha ::
Pertanyaan
Apakah hukumnya orang yang shalat Tarawih, ketika imam selesai membaca surat Adh-Dhuha, ia memerintahkan kepada makmum untuk mengangkat suara-suaranya atau mengucapkan kalimat: “Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar wa lillahilhamd’. Imam mengangap hal itu termasuk sunnah karena Rasulullah ketika tidak datang kepadanya wahyu kemudian turun wahyu kepadanya maka ia bertakbir dan memerintahkan para sahabatnya untuk bertakbir. Apakah sah shalat dengan memberikan tambahan bacaan seperti di atas?

Jawaban
Adapun ucapan ‘Laa ilaha illallahu wallahu akbar…’ sesudah membaca surat Adh-Dhuha, terdapat satu hadits yang dhaif yang telah disebutkan oleh Al-Hafiz Adz-Dzahaby di dalam kitab ‘Thabaqatul Qura Al-Kibar’ dan ia mengatakan di dalam sanadnya terdapat seorang rawi yang bernama Ibnu Abi Barzah. Dan ia bukan yang dimaksud adalah Qasim bin Abi Barzah, karena Qasim bin Abi Barzah adalah tsiqah. Akan tetapi yang dimaksudkan adalah Ahmad bin Muhammad. Tidak terdapat hadits Nabi tentang perintah untuk melakukan hal itu atau untuk mengatakan hal itu. Dengan demikian, justru ucapan seperti itu dapat dikategorikan sebagai bid’ah. Adapun membuat tambahan-tambahan di dalam shalat dengan sesuatu hal yang termasuk bid’ah jelas tidak boleh. Telah terdapat di dalam Shahih dari Nabi, bahwa Beliau berkata kepada Malik bin Huwairits dan sahabat-sahabatnya, bahwa jangan menambah-nambah bacaan shalat, kecuali jika tambahan itu dalam hal doa-doa qunut atau sujud atau tasyahud sebagaimana yang telah kami terangkan di dalam kitab ‘Riyaadhul Jannah fii Raddi ala A’daai al-Sunnah’.

:: Puasa Sunat Sebelum Menqadha Puasa Wajib ::
Pertanyaan
Apakah boleh mendahulukan puasa tathawwu (sunat) sebelum membayar qadha puasa wajib. Contohnya seorang laki-laki masih mempunyai hutang puasa di bulan Ramadhan, kemudian ia hendak melaksanakan puasa sunat satu hari, maka apakah ia harus mendahulukan yang wajib ataukah boleh puasa sunat terlebih?
Jawaban
Apabila ditakutkan tertinggal hari itu atau hari-hari itu (yaitu hari-hari puasa tathawwu, pentj.) maka boleh mendahulukan puasa sunat dari pada puasa wajib. Karena sesungguhnya waktu mengqadha itu adalah waktu yang panjang/waktu yang luas. Aisyah berkata, “Kami tidak menqadha kecuali di bulan Sya’ban,” karena beliau disibukkan dengan Rasulullah. Nabi bersabda yang diriwayatkan dari Rabb-nya: “Dan tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang Aku cintai dari perkara-perkara yang Aku wajibkan atasnya dan masih saja ia mendekatkan diri kepada-Ku dengan yang nafilah sehingga Aku mencintainya…” sampai akhir hadits. Namun, yang paling afdhal adalah mendahulukan apa yang telah Allah Ta’ala wajibkan kepadanya. Akan tetapi jika di sana ada hari yang utama dan ia takut meninggalkannya atau tertinggal, sedangkan waktu menqadha adalah waktu yang luas maka tidak mengapa, insya Allah. Seperti enam hari di bulan Syawal (setelah puasa wajib di bulan Ramadhan pentj.) atau seperti tiga hari di setiap bulan dan seperti puasa Senin-Kamis dan juga puasa hari Arafah dan hari Asyura.




:: Puasa bagi Musafir yang Berniat Tinggal untuk Waktu Lama ::
Pertanyaan
Apa hukumnya puasa bagi orang musafir yang berniat untuk tinggal dalam waktu yang cukup lama, selama sebulan misalnya?
Jawaban
Apabila orang tersebut berniat tinggal lebih dari 20 hari, maka hendaklah ia berpuasa dan tidak lagi dianggap sebagai musafir. Barangsiapa yang mengatakan bahwa ia masih musafir, maka telah menyelisihi keumuman kata musafir secara bahasa dari makna kata ‘safar’. Nabi pernah tinggal di Tabuk selama 19 hari dan Ibnu Abbas berkata: “Apabila kami menetap setelah itu maka kami menyempurnakan shalat.” Yang berarti bahwa kami tidak lagi sebagai musafir dan ini adalah pendapat (ijtihadnya) Ibnu Abbas, inilah pendapat yang lebih dapat diterima, insya Allah Ta’ala.

:: Keluar Mani setelah Bercumbu ::
Pertanyaan
Seorang laki-laki mencumbui istrinya di siang hari bulan Ramadhan sampai keluar air maninya, sedangkan ia tidak mengetahui hukumnya apakah hal itu haram? Atau adakah kewajib atasnya?
Jawaban
Apabila ia mencumbui istrinya dengan tujuan untuk memenuhi syahwatnya dengan mengeluarkan maninya di luar farji (kemaluan) istrinya maka ia dianggap berdosa. Rasulullah bersabda dari apa yang diriwayatkan dari Rabb-nya, “…meninggalkan makanannya, minumannya dan syahwatnya karena Aku.” Apabila seorang suami mencumbui istrinya dalam keadaan tidak mengetahui akan hukumnya maka hendaknya ia bertaubat kepada Allah SWT. Jika ia mencumbui istrinya sedangkan ia dalam keadaan mengetahui bahwa mencumbui ini adalah hal yang diperbolehkan baginya kemudian ia memeluknya dan ia beranggapan bahwa hal ini tidak haram atasnya kecuali jima’ kemudian setelah itu ia mengeluarkan mani dan ia tidak bermaksud untuk mengeluarkan mani, maka tidak apa-apa baginya. Dan walau bagaimanapun maka tidak diwajibkan atasnya untuk memberikan kafarah jima’ pada kasus seperti ini, dan ini adalah ucapan (pendapat) Abu Muhammad bin Hazm rahimahullah ta’ala dan ini adalah shahih.

:: Zakat Fitrah kepada Pemerintah atau Zakat dengan Uang ::
Pertanyaan
Bagaimana pendapat Syaikh tentang zakat yang diserahkan kepada pemerintah di bulan Ramadhan, apakah ia sah?
Jawaban
Zakat fitrah yang diambil oleh pemerintah biasanya dalam bentuk uang. Sedangkan zakat fitrah itu ialah seperti apa yang telah diberitakan oleh Rasulullah dalam hadits Abdullah bin Umar dan hadits Abu Said Al- Khudri yaitu satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum atau satu sha’ anggur yang dikeringkan atau satu sha’ akid (keju). Maka jika ia mendapatkan kemudahan dari salah satu dari empat macam tersebut maka silakan untuk mengeluarkannya dan jika tidak memudahkannya dari hal tersebut maka hendaknya dari pokok hasil bumi. Adapun menggantinya atau menghargakannya dengan uang maka yang shahih dalam hal ini adalah tidak sah. Akan tetapi apabila pemerintahan mengharuskannya dengan hal ini dan tidak menguatkannya dengan dalil-dalil, maka jika seseorang mampu maka hendaklah ia mengeluarkan dari biji-bijian atau dari empat macam tadi. Kemudian ia memberikan harganya atau uangnya kemudian ia memberikan atas apa yang diinginkan atau diharuskan oleh pemerintahan sehingga ia selamat dari kejahatannya. Dan jika ia tidak mampu untuk mengeluarkan zakat dua kali maka sah untuknya mengeluarkan dari macam yang pertama. Maka sah baginya untuk mengeluarkan salah satunya dan dosanya kembali kepada pemerintah.

:: Wanita Tidak Berpuasa karena Hamil dan Melahirkan ::
Pertanyaan
Ada seseorang yang bertanya tentang perempuan yang tidak mampu untuk melaksanakan puasa Ramadhan dikarenakan melahirkan atau hamil.

Jawaban
Maka hendaknya ia menqadha, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’anul Karim, “Maka barangsiapa di antara kalian sakit atau bepergian maka hendaknya mengganti pada hari yang lainnya.” Maka hendaknya ia menqadha pada waktu yang ia mampu, baik itu setelah setahun atau dua tahun atau bahkan tiga tahun. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya. Dan telah terdapat di dalam Sunan (dalam salah satu kitab sunan, pentj.) dari hadits Anas bin Malik Al- Ka’bi . Ia berkata, “Aku menemui Rasulullah, kemudian Rasulullah berkata, ‘Kemarilah kepada makanan’, kemudian aku menjawab, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku sedang berpuasa (yakni ia sedang dalam keadaan musafir).’Kemudian Nabi berkata, “Sesungguhnya Allah menggugurkan atas orang yang musafir setengah shalat (atau keringanan) shalat dan menggugurkan puasa bagi yang musafir dan bagi yang hamil dan orang yang menyusui (keringanan puasa).” Yang dimaksud dengan meletakkan di sini adalah meletakkan sementara, berdasarkan ayat yang kalian telah mendengarnya yaitu: “Barangsiapa di antara kalian yang sakit atau bepergian maka hendaknya mengganti pada hari yang lainnya.” Sebagian ulama ada yang mengatakan bahwa jika sudah lewat satu tahun, sedang ia belum menqadha Ramadhan yang pertama maka diharuskan baginya untuk membayar kafarah bersamaan dengan qadha. Akan tetapi tidak ada dalilnya baik dari Kitabullah atau Sunnah Rasulullah, hal ini hanya perkataan sebagian salafush shalihin saja. Kita mengambil zahir ayat bahwasanya Allah Ta’ala tidak mengatakan, “Barangsiapa di antara kalian yang sakit atau bepergian maka hendaklah ia menggantinya pada hari-hari yang lain. Dan apabila melewati satu tahun sedang ia belum menqadha maka berpuasalah dan ia wajib membayar kafarah juga." "Dan tidaklah Rabb-mu ini memiliki sifat pelupa". Maka tidak ada kewajiban lain baginya kecuali menqadha saja jika ia mampu walaupun ia lewat tiga kali Ramadhan atau bahkan lebih. Dan menqadha ini tidak mesti berurut-urutan sehingga tidak memberatkan kepadanya. Jika sekiranya ia berpuasa tiga hari kemudian berbuka pada satu hari sesuai dengan kekuatan dan kemampuan, maka lakukanlah. Aisyah mengatakan bahwasanya tersisa padanya sesuatu (puasa) Ramadhan, yaitu disebabkan karena haidh kemudian beliau tidak menqadhanya kecuali di bulan Sya’ban. Dan yang dimaksudkan oleh Aisyah bahwa sesungguhnya qadha ini tidak mesti segera, wallahul musta’an.

:: Wanita Haidh dan Nifas Menyentuh dan Membaca Al-Quran ::
Pertanyaan
Apakah diperbolehkan bagi seorang perempuan yang sedang haidh atau nifas untuk menyentuh mushaf Al-Quran atau membacanya, terlebih khusus lagi di bulan Ramadhan yang penuh berkah. Pada bulan ini kaum muslimin mengkhususkannya untuk mengkhatamkannya?

Jawaban
Aku tidak mengetahui di sana ada larangan tentang hal itu, sedangkan hadits yang berbunyi: “Tidak boleh seseorang menyentuh Al-Quran kecuali yang thahir (suci)….“ sebagian ulama berpendapat bahwa hadits itu adalah mursal. Sekiranya hadits tersebut dengan berbagai banyak jalannya adalah menjadi shahih untuk dipakai sebagai hujjah, maka ia diambil kepada apa yang dikatakan oleh Imam Asy-Syaukani di dalam kitabnya, yaitu Nailul Authar. Beliau mengatakan, “Tidak boleh menyentuh Al-Quran kecuali oleh yang thahir, yakni maksudnya adalah yang muslim. Maka tidak boleh orang kafir menyentuhnya, karena Nabi melarang untuk membawa Al-Quran ke negeri musuh.” Adapun firman Allah Ta’ala: “Tidak ada yang menyentuhnya kecuali almuthaharuun,“ yang dimaksud adalah para malaikat, seperti halnya perkataan Imam Malik di dalam Muwaththa-nya berkata: “Bahwa ayat ini ditafsirkan dengan firman Allah Ta’ala, "Jangan demikian, sesungguhnya ia (petunjuk di dalam Al-Qur'an) adalah suatu peringatan. Maka barangsiapa yang menghendaki niscaya dia mengingatkannya, dalam lembaran-lembaran (kitab-kitab) yang dimuliakan, Yang ditinggikan lagi disucikan, Di tangan para utusan, Yang mulia lagi (pula) takwa" (QS. ’Abasa: 11–16), yakni yang dimaksudkan adalah para malaikat. Seperti halnya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “…dan Al-Qur'an itu bukanlah dibawa turun oleh syaithan-syaithan. Dan tidaklah patut mereka membawa Al-Qur'an itu dan merekapun tidak kuasa. Sesungguhnya mereka benar-benar dijauhkan daripada mendengarkan Al-Quran itu.” (QS. 26: 210-212).

:: Wanita Haidh dan Nifas Menghadiri Majlis Ilmu di Masjid ::
Pertanyaan
Apakah dibolehkan bagi wanita yang sedang haidh atau nifas menghadiri majelis ilmu di masjid?

Jawaban
Dibolehkan baginya. Sedangkan hadits yang menyatakan: "Sesungguhnya aku tidak menghalalkan masjid bagi yang haidh ataupun yang junub," ini adalah hadits yang dhaif. Nabi SAW pernah mengatakan kepada Aisyah r.a: “Sesungguhnya haidhmu bukanlah pada tanganmu.” Nabi juga pernah mengatakan kepada Aisyah r.a: "Lakukanlah apa yang dilakukan oleh orang-orang yang haji, kecuali tidak boleh untukmu berthawaf di Baitul Haram." Dengan demikian, dibolehkan bagi wanita yang haidh atau nifas menghadiri majelis ilmu di masjid. Walhamdulillaahi rabbil ‘alamiin.



Kamis, 02 Juli 2009

Bagaimana Cara Menyambut Ramadhan : كيف نستقبل شهر رمضان؟

Penulis : Ust.Ahmad Nizaruddin
Editor : Ust. Eko Haryanto Abu Ziyad

Segala puji bagi Allah yang menjadikan Ramadhan sebagai penghulu bulan-bulan dan melipatgandakan pahala kebaikan di dalamnya. Shalawat beserta salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Saw. yang telah diturunkan Al-Qur’an kepadanya sebagai petunjuk, rahmat, nasehat, dan penyembuh bagi manusia.

Alangkah bahagianya kaum muslimin dengan kedatangan bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan, bulan Al-Qur’an, bulan ampunan, bulan kasih sayang, bulan doa, bulan taubat, bulan kesabaran, dan bulan pembebasan dari api neraka. Bulan yang ditunggu-tunggu kedatangannya oleh segenap kaum muslimin. Bulan yang sebelum kedatangannya Rasulullah Saw. berdoa kepada Allah: “Ya Allah berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadan.” Bulan dimana orang-orang saleh dan para generasi salaf berdoa kepada Allah agar mereka disampaikan ke bulan Ramadhan enam bulan sebelum kedatangannya, Mualla bin al-Fadhl berkata: “Mereka (salaf) selama enam bulan berdoa kepada Allah supaya disampaikan ke bulan Ramadhan, dan berdoa enam bulan selanjutnya agar amalan mereka pada bulan Ramadhan diterima.” Kenapa mereka begitu bersungguh-sungguh memohon kepada Allah agar disampaikan ke bulan Ramadhan? Mari kita dengarkan sabda Rasulullah Saw. ketika beliau memberi kabar para sahabatnya dengan kedatangan bulan Ramadhan: "Ketika datang malam pertama dari bulan Ramadhan seluruh setan dibelenggu, dan seluruh jin diikat.

Semua pintu-pintu neraka ditutup, tidak ada satu pintu pun yang terbuka. Semua pintu sorga dibuka hingga tidak ada satu pun pintu yang tertutup. Lalu tiap malam datang seorang yang menyeru: "Wahai orang yang mencari kebaikan kemarilah; wahai orang yang mencari keburukan menyingkirlah. Hanya Allah lah yang bisa menyelamatkan dari api neraka". (H.R.Tirmidzi). Rasulullah Saw. juga bersabda: “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah telah mewajibkan di dalamnya puasa. Pada bulan itu Allah membuka pintu langit, menutup pintu neraka, dan membelenggu setan-setan. Di dalamnya Allah memiliki satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barang siapa yang diharamkan kebaikan malam itu maka ia sungguh telah diharamkan (dari kebaiakan).” (HR. Nasa’i dan Baihaki).

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali mengomentari hadits ini dengan perkataannya: “Hadits ini merupakan dasar dan dalil memberi ucapan selamat yang dilakukan kaum muslimin kepada muslimin lainnya dengan kedatangan bulan Ramadhan, bagaimana seorang mukmin tidak bergembira dengan dibukanya pintu sorga? Bagaimana seorang mukmin tidak bergembira dengan ditutupnya pintu neraka? Bagaimana orang yang berakal tidak bergembira dengan masa dimana setan-setan dibelenggu?” Hendaklah kita juga mencontoh para salaf dengan senantiasa berdoa kepada Allah agar disampaikan ke bulan Ramadhan yang penuh dengan berbagai macam keberkahan dan keutamaan tersebut.

Ramadhan adalah tamu istimewa. Adalah merupakan kewajiban bagi kita sebagai tuan rumah untuk menyambut kedatanganya dengan suka cita dan memuliakannya. Jika ada seorang presiden atau petinggi negara akan berkunjung ke rumah kita pasti kita akan direpotkan dengan berbagai persiapan untuk menyambutnya. Kita pasti akan menata dan memperindah rumah kita, menyiapkan makanan istimewa dan lain-lain. Ramadhan lebih dari sekedar presiden atau pejabat tinggi lain atau apa pun saja. Ramadhan adalah anugerah Allah yang luar biasa. Ramadhan adalah kesempatan untuk menyiapkan masa depan kita di dunia dan akhirat; oleh karenanya kita mesti mempersiapkan kehadirannya dengan persiapan yang paripurna agar kita bisa sukses meraih gelar takwa dan mendapat janji Allah yaitu ampunan dan bebas dari api neraka. Apa saja perkara yang harus dipersiapkan menjelang kedatangan tamu tersebut?

1) Niat yang sungguh-sungguh

Ketika Ramadhan menjelang banyak orang berbondong-bondong pergi ke pasar dan supermarket untuk persiapan berpuasa. Mereka juga mempersiapkan dan merencanakan anggaran pengeluaran anggaran untuk bulan tersebut. Tetapi sedikit dari mereka yang mempersiapkan hati dan niat untuk Ramadhan. Puluhan kali Ramadhan menghampiri seorang muslim tanpa meninggalkan pengaruh positif pada dirinya seakan-akan ibadah Ramadhan hanya sekedar ritual belaka, ssekedar ajang untuk menggugurkan kewajiban tanpa menghayati dan meresapi esensi ibadah tersebut, jika Ramadhan berlalu ia kembali kepada kondisinya semula.
Tancapkanlah niat untuk menjadikan Ramadhan kali ini dan selanjutnya sebagai musim untuk menghasilkan berbagai macam kebaikan dan memetik pahala sebanyak-banyaknya. Anggaplah Ramadhan kali ini sebagai Ramadhan terakhir yang kita lalui karena kita tidak bisa menjamin kita akan bertemu Ramadhan di tahun-tahun berikutnya. Tanamkan tekad yang disertai dengan keikhlasan untuk konsisten dalam beramal saleh dan beribadah pada bulan Ramadhan ini. Ingat sabda Rasulullah Saw.: “Barangsiapa yang puasa Ramadhan karena iman dan ikhlas maka Allah akan mengampuni dosanya yang telah lalu.”

2) Bertaubat dengan sungguh-sunguh.

“Setiap manusia adalah pendosa dan sebaik-baik pendosa adalah yang bertaubat” demikian sabda Rasulullah Saw. seperti yang diwartakan Ahmad dan Ibnu Majah.

Di antara karunia Allah adalah selalu mengulang-ulang kehadiran momen-momen kebaikan. Ada momen yang diulang setiap pekan, bulan, tahun dan lain-lain. Ramadhan adalah salah satu dari momen tersebut yang selalu datang setiap tahun. Ketika seorang hamba tenggelam dalam kelalaian karena harta benda, anak istri, dan perhiasan dunia lain yang membuat dia lupa kepada Rabbnya, terbius dengan godaan setan, dan terjatuh ke dalam berbagai macam bentuk maksiat datang bulan Ramadhan untuk mengingatkannya dari kelalaiannya, mengembalikannya kepada Rabbnya, dan mengajaknya kembali memperbaharui taubatnya. Ramadhan adalah bulan yang sangat layak untuk memperbarui taubat; karena di dalamnya dilipatgandakan kebaikan, dihapus dan diampuni dosa, dan diangkat derajat. Jika seorang hamba selalu dituntut untuk bertaubat setiap waktu, maka taubat pada bulan Ramadhan ini lebih dituntut lagi; karena Ramadhan adalah bulan mulia waktu dimana rahmat-rahmat Allah turun ke bumi. Mana para pendosa? Mana orang-orang yang melampaui batas? Mana orang-orang yang selalu bermaksiat kepada Allah siang malam? Mana orang-orang yang membalas nikmat Allah dengan maksiat, memerangi Allah di bumi-Nya, dan menentangnya dalam kekuasan-Nya? Segeralah bertaubat! Karena tak satu pun dari kita yang bersih dari dosa dan bebas dari maksiat. Pintu taubat selalu terbuka dan Allah senang dan gembira dengan taubat hambanya. Taubat yang sungguh-sungguh atau taubat nasuha adalah dengan meninggalkan maksiat yang dilakukan, menyesali apa yang telah dilakukan, dan berjanji untuk tidak kembali mengulangi maksiat tersebut, dan jika dosa yang dilakukannya berkaitan dengan hak orang lain hendaknya meminta maaf dan kerelaan dari orang tersebut.

3) Mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan puasa dan ibadah Ramadhan lain.

“Menuntut ilmu wajib setiap muslim” (HR. Ibnu Majah). Ilmu yang Rasulullah Saw. maksudkan dalam hadits ini adalah ilmu yang berkaitan dengan pelaksanaan ibadah yang Allah wajibkan kepada setiap hamba. Setiap muslim wajib mempelajari ilmu tersebut; karena sah atau tidaknya ibadah yang dilakukannya tergantung dengan pengetahuannya tersebut. Seorang yang ingin melakukan shalat wajib mengetahui syarat-syarat atau rukun-rukun atau hal-hal yang membatalkan shalat dan lain-lainya, agar shalatnya sesuai dengan tuntutan agama.

Begitu juga bulan Ramadhan di bulan ini Allah mewajibkan kepada setiap muslim yang mampu untuk berpuasa. Maka sudah menjadi kewajiban setiap muslim untuk membekali dirinya dengan hal-hal yang berkaitan dengan syarat-syarat dan rukun-rukun puasa, hal-hal yang membatalkan puasa, hal-hal yang dimakruhkan dan dibolehkan dalam puasa, hal-hal yang membatalkan puasa dan lain-lain supaya puasa yang dilakukannya sesuai dengan tuntunan syariah dan perbuatannya tidak sia-sia. Di samping pengetahuan yang berkenaan dengan puasa, pengetahuan-pengetahuan lain yang berkaitan dengan Ramadhan juga perlu seperti anjuran-anjuran, prioritas-prioritas amal yang harus dilakukan dalam Ramadhan, dan lain-lain agar setiap muslim dapat mengoptimalkan bulan ini sebaik mungkin.
4) Persiapan fisik dan jasmani.

Menahan diri untuk tidak makan dan minum seharian penuh selama sebulan tentu memerlukan kekuatan fisik yang tidak sedikit, belum lagi kekuatan yang dibutuhkan untuk menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan shalat tarawih dan shalat sunnah lainnya, ditambah kekuatan untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an dan beri’tikaf selama sepuluh hari di akhir Ramadhan. Kesemua hal ini menuntut kita selalu dalam kondisi prima sehingga dapat memanfaatkan Ramadhan dengan optimal dan maksimal.

Melakukan puasa sunnah pada sebelum Ramadhan adalah salah satu cara melatih diri untuk mempersiapkan dan membiasakan diri menghadapi Ramadhan. Oleh karenanya Rasulullah Saw. mencontohkan kepada umatnya bagaimana beliau memperbanyak puasa sunnah pada bulan Sya’ban, sebagaimana yang diwartakan Aisyah: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah Saw. berpuasa selama sebulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau berpuasa (sunah) lebih banyak dari bulan Sya’ban.” (Muttafaq Alaih)
Inilah diantara hal-hal yang mesti dipersiapkan untuk menyambut datangnya bulan kesabaran ini.

Amalan-amalan sunah pada bulan Ramadhan:

Selain puasa yang Allah wajibkan pada bulan Ramadhan ada berbagai amalan yang disunahkan pada bulan ini di antaranya:

1. Mengkhatamkan Al-Qur’an

Bulan Ramadhan adalah bulan Al-Quran. Pada bulan inilah Al-Qur’an pertama kali turun dari lauhul mahfuz ke langit dunia sekaliagus. Allah berfirman:

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)(al baqarah: 185)

Ibnu Abbas RA berkata; "Nabi (Muhammad SAW) adalah orang yang paling dermawan diantara manusia. Kedermawanannya meningkat saat malaikat Jibril menemuinya setiap malam hingga berakhirnya bulan Ramadhan, lalu Nabi membacakan al-Quran dihadapan Jibril. Pada saat itu kedermawanan Nabi melebihi angin yang berhembus."

Hadist tersebut menganjurkan kepada setiap muslim agar bertadarus al-Quran, dan berkumpul dalam majlis al-Quran dalam bulan Ramadhan. Membaca dan belajar al-Qur'an bisa dilakukan di dihadapan orang yang lebih mengerti atau lebih hafal al-Quran. Dianjurkan pula untuk memperbanyak membaca al-Quran di malam hari.
Dalam hadist di atas, mudarosah antara Nabi Muhammad saw dan Malaikat Jibril terjadi pada malam hari, karena malam tidak terganggu oleh pekerjaan-pekerjaan keseharian. Di malam hari, hati seseorang juga lebih mudah meresapi dan merenungi amalan dan ibadah yang dilakukannya.

2. Shalat tarawih

Rasulullah Saw. bersabda: “Barang siapa yang menghidupkan malam bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Shalat tarawih atau qiyam Ramadhan tidak ada batasannya. Sebagian orang mengira shalat tarawih tidak boleh kurang dari 20 rakaat, sebagian lain mengira tidak boleh lebih dari 11 atau 13 rakaat. Ini adalah pendapat keliru yang menyalahi dalil. Hadits-hadits menunjukkan bahwa shalat malam adalah perkara yang luas, tidak ada batasan yang tidak boleh dilanggar. Bahkan ada riwayat yang jelas mengatakan bahwa nabi Saw. pernah shalat 11 rakaat, terkadang 13 rakaat atau kurang dari itu. Ketika ditanya tentang shalat malam beliau bersabda: “Dua rakaat dua rakaat, jika seseorang diantara kalian khawatir masuk waktu subuh hendaklah shalat satu rakaat witir.”

3. Memperbanyak doa

Orang yang berpuasa ketika berbuka adalah salah satu orang yang doanya mustajab. Oleh karenanya perbanyaklah berdoa ketika sedang berpuasa terlebih lagi ketika berbuka. Berdoalah untuk kebaikan diri kita, keluarga, bangsa, dan saudara-saudara kita sesama muslim di belahan dunia.

4. Memberi buka puasa (tafthir shaim)

Hendaknya berusaha untuk selalu memberikan ifthar (berbuka) bagi mereka yang berpuasa walaupun hanya seteguk air ataupun sebutir korma sebagaimana sabda Rasulullah yang berbunyi:" Barang siapa yang memberi ifthar (untuk berbuka) orang-orang yang berpuasa maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tanpa dikurangi sedikitpun". (Bukhari Muslim)

5. Bersedekah

Rasulullah Saw. bersabda: “Sebaik-baik sedekah adalah sedekah pada bulan Ramadhan” (HR. Tirmizi).
Ibnu Abbas RA berkata; "Nabi (Muhammad SAW) adalah orang yang paling dermawan diantara manusia. Kedermawanannya meningkat saat malaikat Jibril menemuinya setiap malam hingga berakhirnya bulan Ramadhan, lalu Nabi membacakan al-Quran dihadapan Jibril. Pada saat itu kedermawanan Nabi melebihi angin yang berhembus."
Dan pada akhir bulan Ramadhan Allah mewajibkan kepada setiap muslim untuk mengeluarkan zakat fitrah sebagai penyempurna puasa yang dilakukannya.

6. I’tikaf

I’tikaf adalah berdiam diri di masjid untuk beribadah kepada Allah. I’tikaf disunahkan bagi laki-laki dan perempuan; karena Rasulullah Saw. selalu beri’tikaf terutama pada sepuluh malam terakhir dan para istrinya juga ikut I’tikaf bersamanya. Dan hendaknya orang yang melaksanakan I’tikaf memperbanyak zikir, istigfar, membaca Al-Qur’an, berdoa, shalat sunnah dan lain-lain.

7. Umroh

Ramadhan adalah waktu terbaik untuk melaksanakan umrah, karena umroh pada bulan Ramadhan memiliki pahala seperti pahala haji bahkan pahala haji bersama Rasulullah Saw. Beliau bersabda: “Umroh pada bulan Ramadhan seperti haji bersamaku.”
8. Memperbanyak berbuat kebaikan

Bulan Ramadhan adalah peluang emas bagi setiap muslim untuk menambah ‘rekening’ pahalanya di sisi Allah. Dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah dan Baihaki dikatakan bahwa amalan sunnah pada bulan Ramadhan bernilai seperti amalan wajib dan amalan wajib senilai 70 amalan wajib di luar Ramadhan. Raihlah setiap peluang untuk berbuat kebaikan sekecil apapun meskipun hanya ‘sekedar’ tersenyum di depan orang lain. Ciptakanlah kreasi dan inovasi dalam berbuat kebaikan agar saldo kebaikan kita terus bertambah.
“dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.”

Semoga kita termasuk orang-orang yang bisa memanfaatkan momentum Ramadhan untuk merealisasikan ketakwaan diri kita dan bisa meraih predikat “bebas dari neraka.” Amin
Wakullu Am wa Antum bikhair

المراجع:
– كتيب "من أعمال رمضان" لسماحة الشيخ عبد العزيز بن باز رحمه الله, دار ابن الأثير
– مطوية "رسالة عاجلة إلى من أدرك رمضان", دار ابن خزيمة
– مطوية "أخي ماذا أعددت لرمضان" لأزهري أحمد محمود, دار ابن خزيمة
www.pesantrenvirtual.com : موقع–

AL QURAN ONLINE

Anda bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

SILATURRAHIM

ShoutMix chat widget

MasNuHu Radio

  • Masnuhu Radio, Jernihkan Hati Gapai Ridho Ilahi
    Dengarkan Dengan Winamp
  • Anda Pengunjung Ke :

     

    Template by NdyTeeN