Tampilkan postingan dengan label PARENTING. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PARENTING. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 Juli 2009

11 Faktor Keberhasilan Siswa

Oleh : Ust. Moh. Fauzil Adhim

Baik,mari kita buka What Works in Schools: Translating Research into Action yang ditulis oleh Robert J. Marzano. Soal penelitian, Marzano memang dikenal sebagai pakar paling kompeten dalam masalah manajemen kelas. Dari penelitiannya secara intensif selama lebih dari 40 tahun, Marzano telah menghasilkan tak kurang dari 25 buku yang menjadi rujukan penting tentang bagaimana seorang guru seharusnya mengelola kelas.

Lalu apa yang bisa kita petik dari What Works in Schools? Banyak hal. Di antaranya yang menarik perhatian saya adalah kesimpulan Marzano tentang 11 faktor yang mempengaruhi keberhasilan siswa. Kesebelas faktor tersebut tersebar dalam 3 aspek, yakni sekolah, guru dan siswa.
Agar pembicaraan kita lebih efektif, mari kita perbincangkan satu per satu secara ringkas:
Sekolah. Faktor pertama yang sangat menentukan kemampuan sekolah mengantar siswa meraih sukses adalah jaminan bahwa kurikulum yang berlaku di sekolah benar-benar layak diandalkan dan dapat diterapkan oleh guru-guru. Sebaik apa pun kurikulum yang telah dirumuskan oleh sekolah, jika guru-guru tidak mampu menerjemahkan dalam tindakan kelas, maka kurikulum tersebut akan sia-sia. Ujung-ujungnya, untuk memenuhi tuntutan kurikulum, yang dilakukan oleh guru bukan menerapkan kurikulum tersebut setepat dan sebaik mungkin, tetapi melakukan drilling. Sebuah proses latihan agar siswa terampil mengerjakan soal. Bukan memahami materi dan konsep sehingga menguasai pelajaran dengan baik.
Kedua, tujuan yang menantang dan umpan balik yang efektif (challenging goals and effective feedback). Tujuan yang mudah dicapai, tidak merangsang kita untuk berusaha dengan sungguh-sungguh. Sebabnya, tanpa usaha kita bisa meraih tujuan tersebut dengan mudah. Sebaliknya, tujuan yang terlalu sulit dicapai, sementara kapasitas mental untuk berusaha meraih dengan gigih belum terbentuk dengan kuat, menjadikan seseorang merasa tidak mampu meraih. Akibatnya, ia tidak mengerahkan seluruh kemampuannya untuk berusaha.
Sebaliknya, tujuan yang menantang akan mendorong kita untuk berusaha dengan sungguh-sungguh. Kita berjuang mewujudkan tujuan yang telah ditetapkan. Semakin upaya kita mendekatkan pada tujuan, semakin kita bergairah. Semakin yakin bahwa upaya yang kita lakukan sudah tepat dan ada manfaatnya, maka akan semakin bersemangat kita melakukannya. Ini berarti perlu umpan balik yang tepat. Tanpa umpan balik yang efektif, semangat yang menyala-nyala itu bisa surut kembali. Meskipun ada sebagian orang yang tetap bersemangat tatkala usahanya tidak memperoleh umpan balik yang berarti, tetapi jenis orang seperti ini sangat sedikit.
Ketiga, keterlibatan orangtua dan komunitas. Ini bagian yang sangat penting. Keberhasilan program pendidikan di sekolah sangat dipengaruhi oleh bagaimana orangtua berinteraksi dengan anaknya. Keselarasan antara sekolah dan orangtua berperan besar dalam mempersiapkan anak meraih sukses. Itu sebabnya, sekolah perlu memiliki program yang secara khusus dirancang untuk membekali orangtua agar memiliki pengetahuan dan kecakapan teknis mengasuh anak serta keselarasan komunikasi dengan sekolah. Pengetahuan dan kecakapan teknis mengasuh bisa diberikan oleh sekolah melalui kegiatan-kegiatan seperti parenting skill class, in house workshop atau berbagai bentuk kegiatan lainnya. Sedangkan keselarasan komunikasi bisa dibangun melalui kegiatan family gathering, breakfast with headmaster, atau blog dan milis orangtua yang dikelola oleh sekolah bersama komite sekolah.
Kegiatan breakfast with headmaster (sarapan bersama kepala sekolah) misalnya, bisa menjadi forum dimana orangtua dapat menyampaikan masukan dan protes secara terbuka. Sebaliknya sekolah bisa menyampaikan harapan maupun kebijakan kepada orangtua secara akrab. Melalui forum semacam ini, ganjalan bisa ditiadakan, komplain bisa segera ditangani dan orangtua tidak perlu melontarkan kritik di depan anaknya. Yang terakhir ini, selain tidak produktif, juga menyebabkan kepercayaan (trust) siswa kepada guru bisa melemah. Padahal kepercayaan merupakan kunci sangat penting bagi keberhasilan pendidikan dan pembelajaran di kelas.
Keempat, lingkungan yang aman dan teratur. Lingkungan yang aman memberi ketenangan bagi staf, guru dan siswa. Sedangkan keteraturan memudahkan siswa beradaptasi dengan peraturan sekolah, peraturan kelas, harapan guru serta keragaman teman. Sedangkan bagi guru, keteraturan memudahkan proses memunculkan perilaku yang diharapkan (expected behavior) dari siswa. Keteraturan juga memudahkan guru membentuk pola belajar.
Kelima, kolegialitas dan profesionalisme (collegiality & proffesionalism). Hubungan yang bersifat kolegial antara guru dengan guru lain, guru dengan kepala sekolah, staf maupun manajemen berperan besar menciptakan komunitas yang bersahabat, akrab, saling menghormati dan saling mendukung. Pada gilirannya, ini sangat menunjang keberhasilan pembelajaran dan pendidikan di sekolah, terutama dalam menciptakan iklim sekolah (school climate) yang hangat dan saling mendukung.
Tentu saja hangatnya hubungan antar guru dan unsur lain di sekolah tidak boleh mengabaikan tugas pokok mereka masing-masing. Itu sebabnya, kolegialitas harus berjalan seiring dengan profesionalisme.
Nah.
***

Guru. Ini merupakan aspek yang paling menentukan. Studi yang dilakukan oleh Marzano menunjukkan bahwa prestasi siswa akan meningkat jika mereka ditangani guru yang efektif, meskipun sekolahnya di bawah rata-rata, bahkan sangat tidak efektif. Lebih-lebih jika guru maupun sekolah sama-sama efektif, pengaruhnya akan lebih dahsyat. Sebaliknya, meskipun sekolah terbilang bermutu, prestasi siswa akan merosot jika guru tidak efektif. Artinya, peran guru dalam menciptakan keberhasilan siswa betul-betul sangat menentukan.
Ada tiga faktor yang mempengaruhi keberhasilan siswa dari aspek guru. Pertama, strategi instruksional. Ini berkait dengan kecakapan guru menyampaikan materi di depan kelas. Ada 9 aspek yang berpengaruh terhadap keberhasilan menyampaikan materi. Tetapi kita belum bisa mendiskusikannya saat ini.
Kedua, kecakapan mengelola kelas (classroom management). Ada empat aspek yang terkait dengan manajemen kelas, yakni penerapan dan penegakan aturan di kelas, strategi pendisiplinan siswa, menjaga dan memperkuat hubungan yang baik antara guru dengan siswa, serta merawat dan menguatkan sikap mental siswa.
Faktor kedua ini sebenarnya perlu pembahasan yang sangat panjang, tetapi kali ini rasanya cukup sampai di sini mengingat kesempatan yang sangat terbatas. InsyaAllah pada lain kesempatan bisa kita perbincangkan secara lebih serius, termasuk terkait dengan bagaimana mengelola anak-anak dengan perilaku bermasalah agar mereka bisa belajar dengan normal sebagaimana yang lain dan tidak mengganggu teman sekelasnya tatkala mengikuti kegiatan pembelajaran di kelas.
Ketiga, desain kurikulum kelas. Ini berkait dengan bagaimana guru merancang kegiatan di kelas secara terstruktur agar tujuan pembelajaran di kelas secara keseluruhan dapat tercapai.
***

Siswa. Ada tiga faktor yang berpengaruh, yakni lingkungan rumah, kecerdasan yang dipelajari atau pengetahuan yang melatarbelakangi serta motivasi. Saya berharap kita bisa berbincang tentang motivasi siswa secara lebih serius pada lain kesempatan.
Semoga bermanfaat.

Sumber : http://kupinang.co.cc


Kamis, 23 Juli 2009

Tidak Ada Tuhan Kecuali Allah

Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Foto SayaSeperti seruan adzan, awalnya mengagungkan Allah dan mengakui kebesarannya. Permulaannya kesaksian bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Sesudah itu seruan untuk menegakkan shalat dan merebut kemenangan. Sedangkan ujungnya adalah peneguhan bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah.

Seperti itu juga seharusnya hidup kita….


Awalnya kita bergerak untuk mengagungkan Allah. Setiap jengkal bumi ini, di setiap sudut kampung-kampung dan negeri, harus kita penuhi dengan takbir. Takbir dengan lisan kita dengan menyebut Allahu akbar. Hanya Allah Yang Maha Besar dan Maha Lebih Besar. Tak ada kebesaran yang melebihi kebesaran-Nya. Tak ada tempat bagi kita untuk menganggap kecil orang lain, karena kita melihat pada pencipta-Nya. Sebaliknya, tak ada yang layak kita besar-besarkan atas orang-orang yang membesarkan dirinya di hadapan manusia, karena sebesar apa pun mereka, sesungguhnya Allah Maha Besar.
Berangkat dari kesadaran bahwa hanya Allah Yang Maha Besar, kita menyatakan kesaksian (syahadat) dengan lisan dan hati kita. Kemudian kita mengarahkan diri kita, pikiran kita, hati kita dan tindakan kita agar apa pun yang kita lakukan adalah dalam rangka untuk menyembah Allah. Bukankah kita diciptakan untuk menyembah-Nya?

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. Adz-Dzaariyaat, 51: 56-58).
Karenanya, kita perlu berupaya agar seluruh aktivitas dan hidup kita memmpunyai nilai ‘ibadah. Tidaklah kita shalat kecuali untuk Allah. Tidaklah kita mati kecuali untuk Allah. Dan kesadaran ini harus kita hidupkan dalam diri kita. Jika tidak, shalat yang kita lakukan pun bisa terlepas dari kebaikan. Betapa banyak orang yang tampaknya sedang mengagungkan Allah dan menyungkurkan keningnya ke tanah, tetapi sesungguhnya ia sedang menyibukkan diri dengan dunia. Ia basahi lisannya dengan takbir, tetapi ia penuhi hatinya dengan dunia.
Astaghfirullahal ‘azhiim. Atau jangan-jangan, kitalah yang lebih banyak lupa daripada ingat, yang lebih banyak menyibukkan diri dengan dunia daripada menyempatkan berpikir akhirat.
Ah, agaknya kita perlu mengingat kembali firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat Al-An’aam ayat 162-163:
“Katakanlah: "Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)".
Tentu saja ayat ini bukan untuk memalingkan kita dari dunia dan tidak memedulikannya. Tetapi agar seluruh yang kita lakukan, termasuk kerja keras kita dalam mencari nafkah, semata-semata untuk Allah. Kita menggenapi apa yang diperintahkan, menunaikan apa yang diserukan-Nya dan mempergunakan apa yang ada pada kita untuk meninggikan kalimat Allah di muka bumi.
Boleh jadi hari-hari kita penuh dengan kesibukan, sehingga seakan-akan seluruh hidup kita untuk dunia. Tetapi jika ia jadikan itu semua untuk memuji dan menyembah-Nya, mematuhi aturan-Nya dan tidak menentang perintah-Nya, maka ia terhitung sedang melakukan ketaatan.
Saya teringat dengan sebuah hadis. Rasulullah saww. bersabda, “Allah kagum kepada seseorang yang menggembala kambingnya di atas gunung. Ia azan dan melaksanakan shalat. Allah berfirman, “Lihatlah oleh kalian (wahai para malaikat) hamba-Ku itu! Ia azan dan shalat. Ia takut kepada-Ku. Aku mengampuni dosanya dan aku akan memasukkannya ke dalam surga.”” (HR. Abu Dawud, An-Nasa’ie & Ahmad).
Hari ini, ketika iman kita terasa amat lemah, semoga kita dapat menggerakkan diri kita untuk menuju ketaatan hanya kepada-Nya. Semoga ujung hidup kita adalah peneguhan bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah.
Ya, tidak ada tuhan kecuali Allah ‘Azza wa Jalla.


Kamis, 16 Juli 2009

Imunisasi Anak

Daya kekebalan tubuh anak belum sebaik orang dewasa, dia masih rentan terhadap serangan berbagai bentuk penyakit berbahaya, maka diperlukan upaya pembentengan terhadap anak dari penyakit-penyakit tersebut, upaya ini lazim disebut dengan imunisasi dan ia berlaku untuk penyakit-penyakit lahir atau penyakit pada umumnya.

Tetapi perlu diingat bahwa penyakit yang mengancam anak tidak hanya penyakit lahir, akan tetapi ada penyakit batin yang datang dari arah lain yaitu arah jin dan setan. Benar, anak tidak luput dari gangguan penyakit yang satu ini dan kenyataan membuktikan bahwa penyakit dari arah ini tidak kalah berbahaya daripada penyakit lahir. Jadi anak disamping dia memerlukan imunisasi dari penyakit yang pertama, dia juga membutuhkan imunisasi dari penyakit yang kedua.

Berdoa pada saat mendatangi istri


بِسْمِ اللهِ، اَللّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا.

“Dengan menyebut Nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari gangguan syaitan dan jauhkanlah syaitan dari apa (anak) yang Engkau karuniakan kepada kami.”

Hikmah doa ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah saw dalam sabdanya, “Jika salah seorang di antara kalian mendatangi iterinya dan membaca, ‘Dengan menyebut Nama Allah, ya Allah jauhkan-lah aku dari gangguan syaitan dan jauhkanlah syaitan dari apa (anak) yang Engkau karuniakan kepada kami,’ kemudian Allah menetapkan atau mentakdirkan seorang anak di antara keduanya, maka anaknya itu tidak akan dapat dicelakakan oleh setan selamanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Semoga para suami tidak melupakan doa ini manakala dia hendak mendatangi istrinya agar anaknya yang mungkin tercipta dari hubungan tersebut sudah mendapatkan imunisasi dini dan hendaknya para istri mengingatkan suami dengan doa ini.

Apa pada saat hamil?

Tidak ada tuntunan khusus dari Rasulullah saw sebatas ilmu penulis, Rasulullah saw tidak menganjurkan selamatan pada tiga bulan atau tujuh bulan dengan makanan tertentu, Rasulullah saw juga tidak mengajarkan ibu hamil menggantungkan gunting atau silet di bajunya sebagai pelindung anak dari roh jahat. Semua itu hanya akal-akalan orang belaka.

Cukup bagi seorang muslimah manakala dia sedang hamil mendekatkan dirinya kepada Allah dengan rajin-rajin beribadah kepadanya, berdzikir dengan dzikir-dzikir yang diajarkan oleh Rasulullah saw sebagai perlindungan bagi dirinya dan kehamilannya, memohon kepadanya agar anak yang dia kandung menjadi anak yang shalih, dimudahkan selama kehamilan dan kelahiran.

Apa pada saat lahir?

Memohon perlindungan kepada Allah Ta'ala untuk anak seperti yang dilakukan oleh istri Imran manakala melahirkan Maryam, “Maka tatkala istri Imran melahirkan anaknya, dia berkata, ‘Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan.’ Dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. ‘Sesungguhnya aku telah menamakannya Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepadaMu dari setan yang terkutuk." (Ali Imran: 36).

Jangan lupa melakukan apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw yaitu tahnik, mengunyah kurma sampai lembut dan menyuapkannya pada mulut anak, mendoakannya agar dilimpahi berkah, aqiqah, satu kambing untuk anak perempuan dan dua untuk anak laki, memberinya nama dengan nama-nama yang baik, nama-nama para nabi dan orang-orang shalih.

Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah berkata, “Beberapa bayi dibawa kepada Rasulullah saw, beliau mendoakan mereka agar dilimpahi berkah dan mentahnik mereka.”

Selalu memohon perlindungan untuk anak

Karena ain, tatapan mata jahat dari orang-orang yang hasad memang ada dan berpengaruh tidak baik kepada anak. Terkadang seorang anak terkena ‘ain yang disebabkan oleh mata orang-orang yang dengki. Anda telah membawa anak itu berkeliling kepada dokter, akan tetapi semua resep yang ditulis oleh dokter sama sekali tidak berpengaruh, segala obat sudah dicoba namun hasilnya nihil, karena kenyataannya anak itu memang terkena penyakit berbeda yang hanya dapat diobati dengan obat yang berbeda pula, yaitu ruqyah.

Pada satu kesempatan Nabi saw datang ke rumah Ja’far dan beliau melihat anak-anaknya dalam keadaan lemah dengan badan yang kurus, lalu beliau menanyakan hal itu kepada sang ibu. Ibu menjelaskan bahwa mereka terkena ain, maka beliau memintanya meruqyah mereka.

Muslim meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah berkata, “Rasulullah memberikan keringanan bagi keluarga Hazm untuk meruqyah karena patukan ular, dan beliau berkata kepada Asma' binti ‘Umais, ‘Kenapa badan anak-anak saudaraku kurus, apakah mereka sakit?’ Asma' menjawab, ‘Ain telah menimpa mereka.’ Rasulullah berkata, ‘Ruqyahlah mereka’ Asma' berkata, ‘Lalu aku menyodorkannya kepada beliau, tetapi beliau berkata, ‘Ruqyahlah mereka.”

Dasi sini maka disunnahkan bagi Anda memperbanyak memohon perlindungan kepada Allah untuk anak pada pagi dan sore hari atau dari waktu ke waktu, dengan membacakan al-Mu’awwidzaat (al-Ikhlash, al-Falaq, dan an-Naas) lalu meniup ditelapak tangan dan setelah itu mengusapkannya ke anak. Hal ini dilakukan sebanyak tiga kali, inilah yang dilakukan oleh Nabi saw, ketika beliau mengeluh karena merasakan sesuatu, maka beliau melakukannya dan mengusapkannya ke kepala dan seluruh badan. Beliau melakukan pula hal itu menjelang tidur.

Nabi saw memohon perlindungan bagi al-Hasan dan al-Husain dengan doa,


أَعُوذُ بِكَلِمَـاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ.

“Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari setiap gangguan syaitan, binatang berbisa dan setiap mata orang yang dengki.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari.

Alangkah baiknya jika Anda mengajarkan anak-anak Anda bagaimana melindungi diri dengan doa-doa yang ma`tsur.

Sebuah tuntunan yang dilupakan

Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Jabir bin ‘Abdullah dari Nabi saw, beliau bersabda:


إِذَا كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ أَوْ أَمْسَيْتُمْ فَكُفُّوا صِبْيَانَكُمْ، فَإِنَّ الشَّيَاطِينَ تَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ، فَإِذَا ذَهَبَ سَـاعَةٌ مِنَ اللَّيْلِ فَحُلُّوهُمْ، فَأَغْلِقُوا اْلأَبْوَابَ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللهِ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يَفْتَحُ بَابًا مُغْلَقًا، وَأَوْكُوا قِرَبَكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللهِ وَخَمِّرُوا آنِيَتَكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللهِ وَلَوْ أَنْ تَعْرُضُوا عَلَيْهَا شَيْئًا وَأَطْفِئُوا مَصَابِيْحَكُمْ.

“Jika waktu malam atau waktu sore tiba, tahanlah anak-anak kalian agar mereka tidak keluar, karena sesungguhnya syaitan bertebaran pada waktu itu. Dan ketika waktu malam itu pergi, lepaskanlah mereka, kuncilah pintu dengan menyebut Nama Allah karena sesungguhnya syaitan tidak akan membuka pintu yang tertutup. Tutuplah wadah-wadah dengan menyebut Nama Allah dan tutuplah segala macam tempat air dengan menyebut Nama Allah walaupun hanya dengan meletakkan sesuatu di atasnya dan padamkanlah lampu-lampu.” (Izzudin Karimi/alsofwah.co.id)

Kamis, 02 Juli 2009

Nabi SAW Dan Anak-Anak

Allah Ta’ala menyifati RasulNya dengan, ”Bil mukminina ra`ufur rahim, sangat belas kasih kepada orang-orang mukmin. (At-Taubah: 128), tanpa kecuali kepada anak-anak, bagaimana tidak sedangkan beliau sendiri bersabda, “Man la yarham la yurham”, siapa yang tidak menyayangi maka dia tidak disayangi.

1- Mencium Anak-anak

Hal ini beliau lakukan kepada anak-anaknya. Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Anas bin Malik berkata, “Kami datang bersama Rasulullah saw kepada Abu Saif si pandai besi, bapak susu Ibrahim bin Rasulullah, maka Rasulullah saw mengambil Ibrahim dan menciumnya.”

Imam Muslim meriwayatkan dari Anas berkata, “Aku tidak melihat seseorang yang lebih menyayangi keluarganya daripada Rasulullah saw.” Anas berkata, “Ibrahim putra Rasulullah saw menyusu di pinggiran Madinah, beliau pergi ke sana dan kami menyertai beliau, beliau masuk rumah yang berasap karena bapak susunya adalah seorang pandai besi, beliau menggendong Ibrahim dan menciumnya.”

Ibrahim inilah yang wafat dalam pangkuan bapaknya, Rasulullah saw, maka kedua mata beliau meneteskan air mata, beliau bersabda, “Mata menitikkan air dan hati bersedih, namun kami tidak berkata kecuali apa yang membuat Raab kita ridha. Demi Allah, wahai Ibrahim, kami benar-benar bersedih berpisah denganmu.”

Aisyah berkata, seorang Arab pedalaman datang kepada Nabi saw, dia berkata, “Kalian mencium anak-anak kalian, kami tidak melakukan.” Maka Nabi saw bersabda, “Aku bisa apa jika Allah mencabut belas kasih dari hati kalian.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.

Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw mencium al-Hasan bin Ali sedangkan al-Aqra’ bin Habis at-Tamimi duduk melihat, maka al-Aqra’ berkata, “Aku mempunyai sepuluh orang anak, tidak seorang pun yang aku cium.” Rasulullah saw memandangnya dan bersabda, “Siapa yang tidak menyayangi maka dia tidak disayangi.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.

2- Salam Kepada Anak-anak

Salam menyebarkan kasih sayang dan belas kasih di antara sesama lebih-lebih kepada anak-anak yang sedang tumbuh, mengucapkan salam kepada anak-anak mengajarkan mereka secara langsung salah satu adab Islam yang mulia di mana ia merupakan salah satu kunci surga.

Nabi saw bersabda, “Kalian tidak masuk surga sehingga kalian beriman, kalian tidak beriman sehingga kalian saling menyintai, maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian lakukan niscaya kalian akan saling menyintai? Tebarkanlah salam di antara kalian.” Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah.

Anas bin Malik berjalan melewati anak-anak yang sedang bermain maka dia mengucapkan salam kepada mereka. Anas berkata, “Begitulah Rasulullah saw melakukannya.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.

3- Doa Untuk Anak-anak

Ini merupakan wujud kasih sayang beliau kepada anak-anak, beliau mendoakan kebaikan untuk anak-anaknya dan anak-anak kaum muslimin.
Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari hadits Abu Hurairah berkata, “Pada suatu hari Rasulullah pergi, beliau tidak berbicara kepadaku dan aku pun tidak berbicara kepada beliau, sehingga beliau sampai di pasar Bani Qainuqa. Kemudian beliau duduk di serambi rumah Fathimah, beliau berkata, ‘Apakah si kecil ada?’ Maka ibunya menahannya beberapa saat, aku menduga dia sedang memakaikan kalung untuknya atau memandikannya, tidak lama kemudian dia datang dengan cepat, sehingga Rasul memeluknya dan menciumnya, beliau berkata, ‘Ya Allah, cintailah dia dan cintailah orang yang mencintainya.”

Rasulullah saw berdoa untuk al-Hasan dan Usamah bin Zaid sebagaimana dalam Shahih al-Bukhari, “Ya Allah, sesungguhnya aku mencintai keduanya, maka cintailah keduanya.”

Rasulullah saw berdoa untuk Abdullah bin Ja’far sebagaimana dalam Musnad Iman Ahmad, “Ya Allah, berikanlah keluarga Ja’far pengganti darinya dan berkahilah Abdullah di dalam perniagaannya.”

Nabi saw juga berdoa untuk Anas bin Malik sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muslim dari Anas berkata, “Nabi saw datang kepada kami, pada saat itu di rumahku hanya ada aku, ibuku dan bibiku Ummu Haram, beliau bersabda, ‘Berdirilah, aku akan shalat bersama kalian.’ Anas berkata, “Kemudian Nabi saw berdoa untuk kami penghuni rumah dengan segala kebaikan dunia dan akhirat, lalu ibuku berkata, ‘Ya Rasulullah saw, berdoalah untuk pelayan kecilmu Anas.’ Maka Rasulullah saw berdoa untukku dengan segala kebaikan, di akhir doanya Nabi saw mengucapkan, “Ya Allah perbanyaklah harta dan anaknya dan berkahilah dia padanya.” Diriwayatkan oleh Muslim. (Izzudin Karimi/ASOFWAH.COM)

AL QURAN ONLINE

Anda bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

SILATURRAHIM

ShoutMix chat widget

MasNuHu Radio

  • Masnuhu Radio, Jernihkan Hati Gapai Ridho Ilahi
    Dengarkan Dengan Winamp
  • Anda Pengunjung Ke :

     

    Template by NdyTeeN