Tampilkan postingan dengan label KHUTBAH JUMAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KHUTBAH JUMAT. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Juli 2010

SEHAT JASMANI DAN ROHANI DENGAN PUASA

Oleh: Izzudin Karimi, Lc.

KHUTBAH PERTAMA :


إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بلله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ الله كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ:
فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ الله وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه و سلم وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ. اللهم صَل عَلَى مُحَمدٍ، وَعَلَى أله وَصَحْبِهِ وَسَلمْ.

Kaum Muslimin Rahimakumullah

Kita semua sudah memaklumi bahwa tujuan Allah menciptakan kita semua, manusia adalah demi beribadah kepadaNya, bukan karena Allah diuntungkan dengan ibadah tersebut. Dia Mahakaya, tidak memerlukan apa pun dari kita meskipun itu ibadah dan ketaatan, akan tetapi kewajiban ibadah tersebut adalah demi kemaslahatan dan kebaikan diri kita sendiri. Kitalah sebenarnya yang memerlukannya, karena jika tidak, maka apa yang membedakan kita dengan hewan? Ini harus diyakini oleh setiap Muslim, karena dengan keyakinan yang demikian, dia akan terlecut untuk taat dan beribadah, karena dia sendirilah yang akan menikmati buahnya hari ini atau esok.

Kamis, 03 September 2009

SEHAT JASMANI DAN ROHANI DENGAN PUASA

Oleh: Izzudin Karimi, Lc.
KHUTBAH PERTAMA :


إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بلله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لا إله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ الله كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ:
فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ الله وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه و سلم وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ. اللهم صَل عَلَى مُحَمدٍ، وَعَلَى أله وَصَحْبِهِ وَسَلمْ.


Kaum Muslimin Rahimakumullah

Kita semua sudah memaklumi bahwa tujuan Allah menciptakan kita semua, manusia adalah demi beribadah kepadaNya, bukan karena Allah diuntungkan dengan ibadah tersebut. Dia Mahakaya, tidak memerlukan apa pun dari kita meskipun itu ibadah dan ketaatan, akan tetapi kewajiban ibadah tersebut adalah demi kemaslahatan dan kebaikan diri kita sendiri. Kitalah sebenarnya yang memerlukannya, karena jika tidak, maka apa yang membedakan kita dengan hewan? Ini harus diyakini oleh setiap Muslim, karena dengan keyakinan yang demikian, dia akan terlecut untuk taat dan beribadah, karena dia sendirilah yang akan menikmati buahnya hari ini atau esok.

Ini juga berarti bahwa tidak ada ibadah apa pun yang diperin-tahkan atau dianjurkan oleh Allah kecuali ia menyimpan kebaikan-kebaikan dan kemaslahatan-kemaslahatan. Ini pasti, baik kemasla-hatan tersebut bersifat murni maupun bersifat dominan. Hal ini kita ketahui karena peletak syariat tidak hanya sekali atau dua kali menjelaskannya, baik secara global ataupun detail ditambah daya pikir dan nalar yang merupakan kemampuan kita sebagai manusia, kalaupun misalnya peletak syariat tidak menjelaskan sementara daya pikir dan nalar kita tidak mampu menangkap, tidak berarti bahwa ia kosong dari kemaslahatan sama sekali, ia tetap mengandung kemaslahatan, hanya saja daya pikir dan nalar kita terbatas untuk dapat menangkapnya, karena dasar kita sebagai manusia memang penuh dengan keterbatasan.

Kaum Muslimin Rahimakumullah

Salah satu ibadah yang sarat dengan kebaikan dan kemasla-hatan adalah shaum (puasa). Kemaslahatan puasa ini tidak terbatas pada tempat dan waktu, ia menembus segala masa. Karenanya, hikmah Allah menuntut diberlakukannya puasa kepada semua umat, umat ini dan umat-umat sebelumnya. Firman Allah Ta’ala :


يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (Al-Baqarah: 183).

Ya, ketakwaan yang merupakan target dari puasa adalah induk dari segala bentuk kebaikan. Pertanyaannya, kebaikan-kebaikan apakah yang mungkin diraih dengan puasa di mana targetnya ada-lah takwa?

Pertama: Keikhlasan

Puasa mendidik keikhlasan, kebersihan, dan ketulusan niat beribadah. Ini sangat penting, karena ia meru-pakan salah satu syarat diterimanya ibadah oleh Allah Ta'ala . Karena puasa adalah menahan, meninggalkan, dan tidak melakukan sesuatu, maka salah satu cirinya adalah kerahasiaan. Kita tidak mengetahui, si ini puasa atau tidak, kalau yang bersangkutan tidak berbicara. Ibadah rahasia lebih dekat kepada keikhlasan, oleh karena itu dalam hadits qudsi Allah berfirman :


يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِيْ. اَلصِّيَامُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِي بِهِ.

"Dia meninggalkan makannya, minumnya, dan nafsunya demi Aku. Puasa itu untukKu dan Aku yang akan membalasnya." (HR. al-Bukhari dari Abu Hurairah, Mukhtashar Shahih al-Bukhari, no. 871).

Kedua : Muraqabah

Puasa mendidik sikap merasa diawasi dan dilihat oleh Allah. Karena puasa bersifat rahasia, maka mung-kin saja seseorang menyendiri di tempat sepi lalu dia makan atau minum tanpa seorang pun mengawasi dan mengetahui, akan tetapi hal itu tidak dilakukannya, karena puasa mendidiknya bahwa Allah mengawasi dan melihatnya. Dari sinilah, maka satu hadits Nabi berkata :


اَلصَّوْمُ جُنَّةٌ

"Puasa itu adalah perisai." (HR. al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah, Mukhtashar Shahih al-Bukhari, no. 871 dan Mukh-tashar Shahih Muslim, no. 571).

Perisai dari dosa-dosa, karena apabila terbetik suatu dosa di benak pelaku puasa, maka dia menyadari bahwa dia berpuasa dan ada yang mengawasi. Inilah derajat ihsan seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah Sallallahu 'Alahi Wasallam ketika menjawab pertanyaan Jibril :


أَنْ تَعْبُدَ الله كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ.

"Kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihatNya, kalau-pun kamu tidak melihatNya, maka sesungguhnya Dia melihatmu." (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah. Mukhtashar Shahih al-Bukhari, no. 47, Mukhtashar Shahih Muslim, no. 2).

Kenyataan membuktikan bahwa kuantitas dosa dan kemak-siatan menurun tajam di masa puasa, hal ini tidak lain karena dam-pak positif dari puasa.

Kaum Muslimin Rahimakumullah.

Ketiga : Kesabaran

Puasa mendidik kesabaran dan menahan diri. Sesuatu yang disukai oleh jiwa untuk dihindari, maka hal itu cukup memberatkan, walaupun untuk sementara waktu, akan tetapi demi tujuannya yang mulia, hal itu kita lakukan. Dengan mening-galkan perkara-perkara yang pada dasarnya dibolehkan, kita di-didik meninggalkan perkara-perkara yang tidak dibolehkan, maka beruntunglah pelaku puasa yang memahami hal ini dan merealisasikannya dalam hidupnya, sehingga puasanya tidak seperti yang dikatakan oleh Rasulullah Sallallahu 'Alahi Wasallam :


مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لله حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

"Barangsiapa tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta, maka Allah tidak membutuhkan puasanya dari makan dan minum." (HR. al-Bukhari dari Abu Hurairah, Mukhtashar Shahih al-Bukhari, no. 876)

Puasa memiliki pengaruh besar dalam mengontrol emosi sese-orang, seperti yang sudah kita sadari bersama, bahwa emosi yang tidak terkontrol, sering menjadi biang persoalan yang menyulitkan, maka dari itu Nabi menganjurkan pelaku puasa agar tidak meladeni orang yang mencela dan mencacinya. Sabda Nabi Sallallahu 'Alahi Wasallam :


وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ، فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ، أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ

"Apabila di hari salah seorang kalian berpuasa, maka janganlah dia berkata kotor dan gaduh, jika ada orang yang mencacinya atau me-nyerangnya, maka hendaknya dia berkata, 'Aku sedang berpuasa." (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, Mukhtashar Shahih al-Bukhari, no. 877 dan Mukhtashar Shahih Muslim, no. 571)

Puasa juga memiliki pengaruh yang luar biasa dalam mengontrol nafsu seseorang, oleh karena itu Nabi menyarankan para pemuda yang belum mampu menikah untuk berpuasa, supaya tidak diperbudak oleh nafsu yang menjerumuskannya ke dalam perkara haram.
Dari Abdullah bin Mas'ud radiyallahu 'anhu ia berkata :


كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم فَقَالَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه و سلم : يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ، فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

"Suatu ketika kami bersama Nabi Sallallahu 'Alahi Wasallam lalu beliau bersabda : “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu, maka hendaknya dia menikah, karena sesungguhnya menikah itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang-siapa belum mampu, maka hendaknya dia berpuasa, karena puasa merupakan perisai baginya “. (HR. al-Bukhari dan Muslim. Mukh-tashar Shahih al-Bukhari, no. 878 dan Mukhtashar Shahih Muslim, no. 794)

Keempat: Kedermawanan

Puasa mengajarkan kedermawanan. Rasa lapar dan haus mengingatkan pelaku puasa terhadap saudara-saudaranya yang selalu lapar, karena memang tidak mempunyai apa yang cukup untuk dimakan. Dalam kondisi tersebut, apabila dia mempunyai kelebihan rizki, niscaya dia akan menyalurkannya kepada yang membutuhkan. Di sinilah muncul empati sosial ter-hadap penderitaan lapar yang dirasakan sebagian orang lalu diikuti dengan tindakan nyata. Inilah salah satu bentuk keteladanan yang ditunjukkan oleh Rasulullah Sallallahu 'Alahi Wasallam
Dari Ibnu Abbas radiyallahu 'anhu, ia berkata :


كَانَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه و سلم أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُوْنُ فِي رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ، وَكَانَ جِبْرِيْلُ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ، فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ، فَلَرَسُوْلُ الله صلى الله عليه و سلم حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيْحِ الْمُرْسَلَةِ

"Rasulullah Sallallahu 'Alahi Wasallam adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan di Bulan Ramadhan pada saat Jibril menemui beliau, Jibril menemui Nabi setiap malam pada Bulan Ramadhan lalu mem-bacakan al-Qur`an kepada beliau. Ketika ditemui Jibril, Rasulullah a benar-benar lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus'." (HR. Al-Bukhari Mukhtashar Shahih al-Bukhari, no. 6)

Kaum Muslimin Rahimakumullah

Selain puasa mendidik empat perkara di atas kepada pelaku-nya, ia juga memberikan kebahagiaan kepadanya, tidak tanggung-tanggung kebahagiaan ini diraih pada saat di mana ia benar-benar dibutuhkan.

Pertama : Kebahagiaan terhadap puasa sebagai kaffarat (pelebur) dosa-dosa. Hal ini seperti dalam kaffarat zhihar, membunuh karena salah, melanggar sumpah, begitu pula dalam haji; haji tamattu' atau qiran yang tidak mampu menyembelih hadyu, dia berpuasa, muhrim (orang yang sedang berihram) yang membunuh binatang buruan atau mencukur rambut sebelum waktunya, salah satu kaffaratnya adalah puasa.

Dosa menyebabkan kecemasan dan ketakutan karena akibat-nya yang buruk, manakala disediakan peleburnya, berarti kecemasan tersebut akan teratasi, pelakunya pun tenang dan berbahagia, sama halnya dengan peminum racun yang membahayakan, ketika pena-warnya ditemukan, dia akan senang sekali. Nabi a bersabda :


فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ وَجَارِهِ تُكَفِّرُهَا الصَّلَاةُ وَالصَّوْمُ وَالصَّدَقَةُ.

"Fitnah (pelanggaran) seseorang kepada keluarga, harta, anak, dan tetangganya dilebur dengan shalat, puasa dan sedekah." (HR. al-Bukhari dari Hudzaifah bin al-Yaman. Mukhtashar Shahih al-Bukhari, no. 310, Mukhtashar Shahih Muslim, no. 1990)

Kedua : Kebahagiaan terhadap puasa sebagai pemberi syafa'at. Ini terjadi di Hari Kiamat di mana segala hubungan di antara ma-nusia terputus, tidak ada bantuan dan pertolongan, padahal ia sangat dibutuhkan. Dalam kondisi tersebut, puasa hadir sebagai pemberi syafa'at. Nabi a bersabda :


اَلصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. يَقُوْلُ الصِّيَامُ: أَيْ رَبِّ، مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِيْ فِيْهِ. وَيَقُوْلُ الْقُرْآنُ: مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِيْ فِيْهِ.

"Puasa dan al-Qur`an akan memberi syafa'at kepada seorang hamba pada Hari Kiamat. Puasa berkata, 'Ya Rabbi, aku telah menghala-nginya dari makan dan syahwatnya di siang hari, maka izinkan aku memberi syafa'at kepadanya.' Al-Qur`an berkata, 'Aku telah menghalanginya dari tidur di malam hari, maka izinkan aku mem-beri syafa'at kepadanya”. (HR. Ahmad no. 6626 dari Ibnu Umar. Al-Haitsami dalam Majma' az-Zawa`id, 3/181 berkata, "Rawi-rawinya adalah rawi hadits shahih.")

Ketiga : Kebahagiaan di saat berbuka, lebih dari itu adalah kebahagiaan terhadap puasa yang dengannya seorang Muslim ber-temu Allah. Nabi a bersabda :


لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْـَرحُهُمَا، إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ.

"Orang yang berpuasa mempunyai dua kebahagiaan yang dinikmati-nya. Apabila dia berbuka puasa dia berbahagia dan apabila dia ber-temu Rabb-nya, dia berbahagia dengan puasanya”. (HR. al-Bukhari dan Muslim. Mukhtashar Shahih al-Bukhari, no. 877 dan Mukh-tashar Shahih Muslim, no. 571)

Keempat : Kebahagiaan terhadap puasa sebagai pengantar ke Surga dan pelindung dari Neraka. Lebih dari itu disediakan pintu khusus di Surga yang bernama Rayyan, hanya orang-orang yang berpuasalah yang dipanggil darinya.


عَنْ سَهْلٍ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ : إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُوْنَ فَيَقُوْمُوْنَ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، فَإِذَا دَخَلُوْا أُغْلِقَ، فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ.

"Dari Sahal radiyallahu 'anhu dari Nabi Sallallahu 'Alahi Wasallam , beliau bersabda :”Sesungguhnya di surga terdapat sebuah pintu yang dikenal dengan ar-Rayyan, dari-nya orang-orang yang berpuasa masuk Surga pada Hari Kiamat, selain mereka tidak masuk darinya. Dikatakan, 'Di mana orang-orang yang berpuasa?' Lalu mereka berdiri, tidak seorang pun masuk bersama mereka, jika mereka masuk, maka ia ditutup, maka tidak seorang pun masuk darinya”. (HR. al-Bukhari, Mukhtashar Shahih al-Bukhari, no. 872).


بَارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَجَعَلَنَا الله مِنَ الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ الله لِيْ وَلَكُمْ وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ


KHUTBAH KEDUA :


اَلْحَمْدُ لله الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ
أَشْهَدُ أَنْ لا إله إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله
قَالَ الله تعالى :(( يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ ))
اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أله وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ:

Kaum Muslimin Rahimakumullah
Di khutbah pertama telah kita ketahui bersama bahwa puasa mendidik ketakwaan dan memberi kebahagiaan kepada pelakunya. Adakah keterkaitan antara ketakwaan dengan kebahagiaan? Erat sekali. Ketakwaan adalah modal utama kebahagiaan, karena ketak-waan berarti berbuat baik dengan dilandasi iman, sementara kebahagiaan adalah hilangnya ketakutan dan kesedihan. Ini hanya diraih oleh orang yang bertakwa. Firman Allah Ta'ala :


فَمَنِ اتَّقَى وَأَصْلَحَ فَلاَخَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَهُمْ يَحْزَنُونَ

"Maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidak-lah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka ber-sedih hati." (Al-A'raf: 35)

Dari ayat ini seorang penyair berkata :


وَلَسْتُ أَرَى السَّعَادَةَ جَمْعَ مَالٍ ولكن التَّقِيَّ هُوَ السَّعِيْدُ

“Menurutku kebahagiaan bukan dengan harta yang banyak
Akan tetapi orang yang bertakwalah orang yang berbahagia”

Kaum Muslimin Rahimakumullah
Di samping kebaikan-kebaikan puasa di atas, di mana semua itu kembali kepada sisi rohani, puasa juga mempunyai kebaikan-kebaikan dari sisi jasmani, makanan di satu sisi dibutuhkan oleh tubuh, karena ia bermanfaat baginya, akan tetapi di sisi lain ia bisa menjadi sumber penyakit bagi tubuh, lebih-lebih apabila ia tidak terkontrol dengan baik. Berapa banyak penyakit berbahaya diakibat-kan oleh makanan ; darah tinggi yang dipicu oleh lemak dan kolesterol yang terkandung di dalam makanan, penyakit gula yang dipicu oleh asupan gula yang terlalu tinggi ke dalam tubuh, dan masih banyak lagi penyakit-penyakit lainnya yang dipicu oleh makanan. Nabi telah memperingatkan hal tersebut, beliau bersabda :


مَا مَلَأَ أدمي وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ.

"Manusia tidak mengisi bejana yang lebih buruk daripada perutnya."(HR. at-Tirmidzi no. 2385. Dia berkata, "Hadits hasan shahih")

Di sinilah peran puasa sebagai kontrol dan penyeimbang ma-kanan, sehingga ia bisa meminimalkan sisi buruknya dan mengop-timalkan sisi baiknya. Dengan puasa, aliran darah di dalam tubuh menurun, karena pemicunya yaitu makanan, untuk sementara di-hentikan dan ini sangat membantu penderita penyakit darah tinggi.

Tubuh manusia tidak ubahnya seperti mesin, khususnya perut, yaitu usus-usus dan jaringan pencernaan, kalau mesin memerlukan waktu rehat demi kebaikannya, maka tubuh juga demikian, dengan puasa, kita telah memberikan hak istirahat kepadanya, ia pun mem-bersihkan dirinya dari endapan sisa-sisa makanan, lemak, dan lain-lainnya yang mungkin tertinggal di dalam usus, dan pada saat ia dibutuhkan untuk bekerja, maka ia pun bekerja dalam kondisi fres.

Puasa juga bermanfaat membantu perokok menghentikan rokok. Kita semua mengetahui bahwa rokok sangat membahayakan penghisapnya dan orang-orang di sekitarnya, bahkan produsennya pun telah menulis bahayanya di bungkusnya, ia memicu berbagai penyakit berat. Hal ini sudah tidak menjadi perdebatan lagi, di samping ia sama dengan membuang-buang harta. Selama puasa, kurang lebih empat belas jam perokok bisa tidak merokok. Ini menunjukkan bahwa sebenarnya mereka mampu tidak merokok, hanya saja nafsulah yang telah mengalahkan mereka.

Kaum Muslimin Rahimakumullah
Melihat kebaikan-kebaikan puasa di atas, khatib teringat Fir-man Allah Ta'ala :


وَأَن تَصُومُوا خَيْرُُ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

"Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (Al-Baqa-rah: 184).

Juga sabda Nabi :


اَلصَّوْمُ جُنَّةٌ

"Puasa adalah perisai."

Perisai dari apa? Nabi tidak menjelaskannya secara langsung. Ucapan seperti ini menunjukkan keumuman. Jadi ia adalah perisai dari dosa, maksiat, neraka, penyakit, dan hal-hal yang tidak diingin-kan lainnya.


إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اللهم بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اللهم اغْـفِـرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْـفِـرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. اللهم إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى. اللهم إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيْعِ سَخَطِكَ. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَصَلى الله عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.


( Dikutip dari buku : kumpulan Khutbah Jum’at Pilihan Setahun Edisi Kedua, Darul Haq, Jakarta. Diposting oleh Abu Maryam )

Sumber :http://www.alsofwah.or.id/?pilih=lihatkhutbah&id=182

Kamis, 30 Juli 2009

Sudah Terujikah Iman Kita

Oleh: Ade Hermansyah Bin Bunyamin

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا. أَمَّابَعْدُ؛

فَإِنْ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

Hadirin jamaah Jum’at yang berbahagia!

Pada kesempatan Jum’at ini, marilah kita merenungkan salah satu firman Allah dalam surat Al-‘Ankabut ayat 2 dan 3:
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.

Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa salah satu konsekuensi pernyataan iman kita, adalah kita harus siap menghadapi ujian yang diberikan Allah Subhannahu wa Ta'ala kepada kita, untuk membuktikan sejauh mana kebenaran dan kesungguhan kita dalam menyatakan iman, apakah iman kita itu betul-betul bersumber dari keyakinan dan kemantapan hati, atau sekedar ikut-ikutan serta tidak tahu arah dan tujuan, atau pernyataan iman kita didorong oleh kepentingan sesaat, ingin mendapatkan kemenangan dan tidak mau menghadapi kesulitan seperti yang digambarkan Allah Subhannahu wa Ta'ala dalam surat Al-Ankabut ayat 10:

Dan di antara manusia ada orang yang berkata: “Kami beriman kepada Allah”, maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah. Dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata: “Sesungguh-nya kami adalah besertamu.” Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia”?
Hadirin jamaah Jum’at yang berbahagia!

Bila kita sudah menyatakan iman dan kita mengharapkan manisnya buah iman yang kita miliki yaitu Surga sebagaimana yang dijanjikan oleh Allah Subhannahu wa Ta'ala :
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka adalah Surga Firdaus menjadi tempat tinggal. (Al-Kahfi 107).

Maka marilah kita bersiap-siap untuk menghadapi ujian berat yang akan diberikan Allah kepada kita, dan bersabarlah kala ujian itu datang kepada kita. Allah memberikan sindiran kepada kita, yang ingin masuk Surga tanpa melewati ujian yang berat.

Apakah kalian mengira akan masuk Surga sedangkan belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa malapetaka dan keseng-saraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersama-nya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguh-nya pertolongan Allah itu amat dekat”. (Al-Baqarah 214).

Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam mengisahkan betapa beratnya perjuangan orang-orang dulu dalam perjuangan mereka mempertahankan iman mereka, sebagaimana dituturkan kepada shahabat Khabbab Ibnul Arats Radhiallaahu anhu.

لَقَدْ كَانَ مَنْ قَبْلَكُمْ لَيُمْشَطُ بِمِشَاطِ الْحَدِيْدِ مَا دُوْنَ عِظَامِهِ مِنْ لَحْمٍ أَوْ عَصَبٍ مَا يَصْرِفُهُ ذَلِكَ عَنْ دِيْنِهِ وَيُوْضَعُ الْمِنْشَارُ عَلَى مِفْرَقِ رَأْسِهِ فَيَشُقُّ بِاثْنَيْنِ مَا يَصْرِفُهُ ذَلِكَ عَنْ دِيْنِهِ. (رواه البخاري).

... Sungguh telah terjadi kepada orang-orang sebelum kalian, ada yang di sisir dengan sisir besi (sehingga) terkelupas daging dari tulang-tulangnya, akan tetapi itu tidak memalingkannya dari agamanya, dan ada pula yang diletakkan di atas kepalanya gergaji sampai terbelah dua, namun itu tidak memalingkannya dari agamanya... (HR. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari dengan Fathul Bari, cet. Dar Ar-Royyan, Juz 7 hal. 202).

Cobalah kita renungkan, apa yang telah kita lakukan untuk membuktikan keimanan kita? cobaan apa yang telah kita alami dalam mempertahankan iman kita? Apa yang telah kita korbankan untuk memperjuangkan aqidah dan iman kita? Bila kita memper-hatikan perjuangan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam dan orang-orang terdahulu dalam mempertahankan iman mereka, dan betapa pengorbanan mereka dalam memperjuangkan iman mereka, mereka rela mengorbankan harta mereka, tenaga mereka, pikiran mereka, bahkan nyawapun mereka korbankan untuk itu. Rasanya iman kita ini belum seberapanya atau bahkan tidak ada artinya bila dibandingkan dengan iman mereka. Apakah kita tidak malu meminta balasan yang besar dari Allah sementara pengorbanan kita sedikit pun belum ada?

Hadirin sidang Jum’at yang dimuliakan Allah!

Ujian yang diberikan oleh Allah kepada manusia adalah berbeda-beda.
Dan ujian dari Allah bermacam-macam bentuknya, setidak-nya ada empat macam ujian yang telah dialami oleh para pendahulu kita:

Yang pertama: Ujian yang berbentuk perintah untuk dilaksanakan, seperti perintah Allah kepada Nabi Ibrahim Alaihissalam untuk menyembelih putranya yang sangat ia cintai. Ini adalah satu perintah yang betul-betul berat dan mungkin tidak masuk akal, bagaimana seorang bapak harus menyembelih anaknya yang sangat dicintai, padahal anaknya itu tidak melakukan kesalahan apapun. Sungguh ini ujian yang sangat berat sehingga Allah sendiri mengatakan:

Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. (Ash-Shaffat 106).
Dan di sini kita melihat bagaimana kualitas iman Nabi Ibrahim Alaihissalam yang benar-benar sudah tahan uji, sehingga dengan segala ketabahan dan kesabarannya perintah yang sangat berat itupun dijalankan.

Apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim Shallallaahu alaihi wa salam dan puteranya adalah pelajaran yang sangat berat itupun dijalankannya.

Apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan puteranya adalah pelajaran yang sangat berharga bagi kita, dan sangat perlu kita tauladani, karena sebagaimana kita rasakan dalam kehidupan kita, banyak sekali perintah Allah yang dianggap berat bagi kita, dan dengan berbagai alasan kita berusaha untuk tidak melaksanakannya. Sebagai contoh, Allah telah memerintahkan kepada para wanita Muslimah untuk mengenakan jilbab (pakaian yang menutup seluruh aurat) secara tegas untuk membedakan antara wanita Muslimah dan wanita musyrikah sebagaimana firmanNya:

Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang Mumin” “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Ahzab, 59).

Namun kita lihat sekarang masih banyak wanita Muslimah di Indonesia khususnya tidak mau memakai jilbab dengan berbagai alasan, ada yang menganggap kampungan, tidak modis, atau beranggapan bahwa jilbab adalah bagian dari budaya bangsa Arab. Ini pertanda bahwa iman mereka belum lulus ujian. Padahal Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam memberikan ancaman kepada para wanita yang tidak mau memakai jilbab dalam sabdanya:

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا؛ قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيْلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُؤُوْسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيْحَهَا. (رواه مسلم).

“Dua golongan dari ahli Neraka yang belum aku lihat, satu kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi, yang dengan cambuk itu mereka memukul manusia, dan wanita yang memakai baju tetapi telanjang berlenggak-lenggok menarik perhatian, kepala-kepala mereka seperti punuk unta, mereka tidak akan masuk Surga dan tidak akan mencium wanginya”. (HR. Muslim, Shahih Muslim dengan Syarh An-Nawawi cet. Dar Ar-Rayyan, juz 14 hal. 109-110).

Yang kedua: Ujian yang berbentuk larangan untuk ditinggalkan seperti halnya yang terjadi pada Nabi Yusuf Alaihissalam yang diuji dengan seorang perempuan cantik, istri seorang pembesar di Mesir yang mengajaknya berzina, dan kesempatan itu sudah sangat terbuka, ketika keduanya sudah tinggal berdua di rumah dan si perempuan itu telah mengunci seluruh pintu rumah. Namun Nabi Yusuf Alaihissalam membuktikan kualitas imannya, ia berhasil meloloskan diri dari godaan perempuan itu, padahal sebagaimana pemuda umumnya ia mempunyai hasrat kepada wanita. Ini artinya ia telah lulus dari ujian atas imannya.

Sikap Nabi Yusuf Alaihissalam ini perlu kita ikuti, terutama oleh para pemuda Muslim di zaman sekarang, di saat pintu-pintu kemaksiatan terbuka lebar, pelacuran merebak di mana-mana, minuman keras dan obat-obat terlarang sudah merambah berbagai lapisan masyarakat, sampai-sampai anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar pun sudah ada yang kecanduan. Perzinahan sudah seakan menjadi barang biasa bagi para pemuda, sehingga tak heran bila menurut sebuah penelitian, bahwa di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya enam dari sepuluh remaja putri sudah tidak perawan lagi. Di antara akibatnya setiap tahun sekitar dua juta bayi dibunuh dengan cara aborsi, atau dibunuh beberapa saat setelah si bayi lahir. Keadaan seperti itu diperparah dengan semakin banyaknya media cetak yang berlomba-lomba memamerkan aurat wanita, juga media elektronik dengan acara-acara yang sengaja dirancang untuk membangkitkan gairah seksual para remaja. Pada saat seperti inilah sikap Nabi Yusuf Alaihissalam perlu ditanamkan dalam dada para pemuda Muslim. Para pemuda Muslim harus selalu siap siaga menghadapi godaan demi godaan yang akan menjerumuskan dirinya ke jurang kemaksiatan. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam telah menjanjikan kepada siapa saja yang menolak ajakan untuk berbuat maksiat, ia akan diberi perlindungan di hari Kiamat nanti sebagaimana sabdanya:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ ... وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ ... (متفق عليه).

“Tujuh (orang yang akan dilindungi Allah dalam lindungan-Nya pada hari tidak ada perlindungan selain perlindunganNya, .. dan seorang laki-laki yang diajak oleh seorang perempuan terhormat dan cantik, lalu ia berkata aku takut kepada Allah…” (HR. Al-Bukhari Muslim, Shahih Al-Bukhari dengan Fathul Bari cet. Daar Ar-Rayyan, juz 3 hal. 344 dan Shahih Muslim dengan Syarh An-Nawawi cet. Dar Ar-Rayaan, juz 7 hal. 120-121).

Yang ketiga: Ujian yang berbentuk musibah seperti terkena penyakit, ditinggalkan orang yang dicintai dan sebagainya. Sebagai contoh, Nabi Ayyub Alaihissalam yang diuji oleh Allah dengan penyakit yang sangat buruk sehingga tidak ada sebesar lubang jarum pun dalam badannya yang selamat dari penyakit itu selain hatinya, seluruh hartanya telah habis tidak tersisa sedikitpun untuk biaya pengobatan penyakitnya dan untuk nafkah dirinya, seluruh kerabatnya meninggalkannya, tinggal ia dan isterinya yang setia menemaninya dan mencarikan nafkah untuknya. Musibah ini berjalan selama delapan belas tahun, sampai pada saat yang sangat sulit sekali baginya ia memelas sambil berdo’a kepada Allah:

“Dan ingatlah akan hamba Kami Ayuub ketika ia menyeru Tuhan-nya;” Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan”. (Tafsir Ibnu Katsir, Juz 4 hal. 51).

Dan ketika itu Allah memerintahkan Nabi Ayyub Alaihissalam untuk menghantamkan kakinya ke tanah, kemudian keluarlah mata air dan Allah menyuruhnya untuk meminum dari air itu, maka hilanglah seluruh penyakit yang ada di bagian dalam dan luar tubuhnya. (Tafsir Ibnu Katsir, Juz 4 hal. 52). Begitulah ujian Allah kepada NabiNya, masa delapan belas tahun ditinggalkan oleh sanak saudara merupakan perjalanan hidup yang sangat berat, namun di sini Nabi Ayub Alaihissalam membuktikan ketangguhan imannya, tidak sedikitpun ia merasa menderita dan tidak terbetik pada dirinya untuk menanggalkan imannya. Iman seperti ini jelas tidak dimiliki oleh banyak saudara kita yang tega menjual iman dan menukar aqidahnya dengan sekantong beras dan sebungkus sarimi, karena tidak tahan menghadapi kesulitan hidup yang mungkin tidak seberapa bila dibandingkan dengan apa yang dialami oleh Nabi Ayyub Alaihissalam ini.
Sidang jamaah rahima kumullah

Yang keempat: Ujian lewat tangan orang-orang kafir dan orang-orang yang tidak menyenangi Islam. Apa yang dialami oleh Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa salam dan para sahabatnya terutama ketika masih berada di Mekkah kiranya cukup menjadi pelajaran bagi kita, betapa keimanan itu diuji dengan berbagai cobaan berat yang menuntut pengorbanan harta benda bahkan nyawa. Di antaranya apa yang dialami oleh Rasulullah n di akhir tahun ketujuh kenabian, ketika orang-orang Quraisy bersepakat untuk memutuskan hubungan apapun dengan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam beserta Bani Abdul Muththolib dan Bani Hasyim yang melindunginya, kecuali jika kedua suku itu bersedia menyerahkan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam untuk dibunuh. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam bersama orang-orang yang membelanya terkurung selama tiga tahun, mereka mengalami kelaparan dan penderitaan yang hebat. (DR. Akram Dhiya Al-‘Umari, As-Sirah An-Nabawiyyah Ash-Shahihah, Juz 1 hal. 182).

Juga apa yang dialami oleh para shahabat tidak kalah beratnya, seperti apa yang dialami oleh Yasir z dan istrinya Sumayyah dua orang pertama yang meninggal di jalan dakwah selama periode Mekkah. Juga Bilal Ibnu Rabah Radhiallaahu anhu yang dipaksa memakai baju besi kemudian dijemur di padang pasir di bawah sengatan matahari, kemudian diarak oleh anak-anak kecil mengelilingi kota Mekkah dan Bilal Radhiallaahu anhu hanya mengucapkan “Ahad, Ahad” (DR. Akram Dhiya Al-Umari, As-Siroh An-Nabawiyyah Ash-Shahihah, Juz 1 hal. 154-155).

Dan masih banyak kisah-kisah lain yang menunjukkan betapa pengorbanan dan penderitaan mereka dalam perjuangan mempertahankan iman mereka. Namun penderitaan itu tidak sedikit pun mengendorkan semangat Rasulullah dan para shahabatnya untuk terus berdakwah dan menyebarkan Islam.

Musibah yang dialami oleh saudara-saudara kita umat Islam di berbagai tempat sekarang akibat kedengkian orang-orang kafir, adalah ujian dari Allah kepada umat Islam di sana, sekaligus sebagai pelajaran berharga bagi umat Islam di daerah-daerah lain. Umat Islam di Indonesia khususnya sedang diuji sejauh mana ketahanan iman mereka menghadapi serangan orang-orang yang membenci Islam dan kaum Muslimin. Sungguh menyakitkan memang di satu negeri yang mayoritas penduduknya Muslim terjadi pembantaian terhadap kaum Muslimin, sekian ribu nyawa telah melayang, bukan karena mereka memberontak pemerintah atau menyerang pemeluk agama lain, tapi hanya karena mereka mengatakan: ( Laa ilaaha illallaahu ) لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ, tidak jauh berbeda dengan apa yang dikisahkan Allah dalam surat Al-Buruj ayat 4 sampai 8:

“Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang Mukmin itu melainkan karena orang-orang Mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji”.

Peristiwa seperti inipun mungkin akan terulang kembali selama dunia ini masih tegak, selama pertarungan haq dan bathil belum berakhir, sampai pada saat yang telah ditentukan oleh Allah.

Kita berdo’a mudah-mudahan saudara-saudara kita yang gugur dalam mempertahankan aqidah dan iman mereka, dicatat sebagai para syuhada di sisi Allah. Amin. Dan semoga umat Islam yang berada di daerah lain, bisa mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa, sehingga mereka tidak lengah menghadapi orang-orang kafir dan selalu berpegang teguh kepada ajaran Allah serta selalu siap sedia untuk berkorban dalam mempertahankan dan meninggikannya, karena dengan demikianlah pertolongan Allah akan datang kepada kita, firman Allah.

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. (Muhammad: 7).

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ. وَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأََشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَقُوا اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيْرٌ بِمَا تَعْمَلُوْنَ.

Hadirin jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah!

Sebagai orang-orang yang telah menyatakan iman, kita harus mempersiapkan diri untuk menerima ujian dari Allah, serta kita harus yaqin bahwa ujian dari Allah itu adalah satu tanda kecintaan Allah kepada kita, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam :

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا اِبْتَلاَهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ. (رواه الترمذي، وقال هذا حديث حسن غريب من هذا الوجه).

“Sesungguhnya besarnya pahala sesuai dengan besarnya cobaan (ujian), Dan sesungguhnya apabila Allah mencintai satu kaum Ia akan menguji mereka, maka barangsiapa ridha baginyalah keridhaan Allah, dan barangsiapa marah baginyalah kemarahan Allah”. (HR. At-Tirmidzi, dan ia berkata hadits ini hasan gharib dari sanad ini, Sunan At-Timidzy cet. Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah, juz 4 hal. 519).
Mudah-mudahan kita semua diberikan ketabahan dan kesabaran oleh Allah dalam menghadapi ujian yang akan diberikan olehNya kepada kita. Amin.

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَرَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْ كُلِّ صَحَابَةِ رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ.
رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ.
رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.
اَللَّهُمَ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَصْلِحْ وُلاَةَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ وَوَفِّقْهُمْ لِلْعَمَلِ بِمَا فِيْهِ صَلاَحُ اْلإِسْلاَمِ وَالْمُسْلِمِيْنَ.
اَللَّهُمَ لاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لاَ يَخَافُكَ فِيْنَا وَلاَ يَرْحَمُنَا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.



Kamis, 23 Juli 2009

YANG MEMBATALKAN IBADAH SEORANG MUSLIM

Oleh: Abdurrahman Nuryaman
KHUTBAH PERTAMA


إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ ...

فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.

Jamaah Jum'at yang Dirahmati Allah
Kita semua pasti mengetahui apa saja yang dapat membatalkan wudhu, yang membatalkan shalat dan ibadah-ibadah lainnya, dari segi hukum fikih pelaksanaan. Akan tetapi barangkali sedikit di antara kita yang mengetahui apa saja yang dapat membatalkan amal ibadah seorang Muslim secara umum.

Membatalkan yang kita maksud adalah gugurnya atau terhapusnya pahala amal, sebagian atau keseluruhan, atau amal ibadah dan segala kebajikan itu sendiri tidak ada gunanya sama sekali, ka-rena pemiliknya telah dihukumi keluar dari Islam oleh Allah.
Membatalkan, yang dalam bahasa Arab adalah أَبْطَلَ, sering diungkapkan dengan kata أَحْبَطَ yang bermakna, menggugurkan atau menghapus.

Ibnul Atsir di dalam An-Nihayah Fi Gharib al-Hadits mengatakan, "أَحْبَطَ اللّهُ عَمَلَهُ" (Allah menggugurkan amalnya), maknanya adalah, أَبْطَلَهُ (Allah membatalkannya).
Ibnu Manzhur dalam Lisan al-Arab lebih jelas menerangkan hakikat makna ini dengan mengatakan, "Kata kerja حَبَطَ (gugur), bentuk ketiganya adalah حَبْطٌ dan bisa juga حُبُوْطٌ maknanya adalah, seseorang mengerjakan suatu amal lalu dia merusaknya sendiri."

Ini mengisyaratkan bahwa ada hal-hal tertentu yang apabila dilakukan oleh seorang Muslim, maka amal ibadahnya bisa menjadi sia-sia dan gugur tak berguna, tidak diterima Allah dan tidak mendapatkan pahala. Dengan menyadari ini, setiap Muslim wajib untuk mengetahui apa saja yang dapat merusak amal ibadahnya; tidak untuk melakukannya, akan tetapi demi menjauhi dan senan-tiasa berhati-hati terhadapnya. Dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim terdapat riwayat dari sahabat Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu ‘anhu, di mana beliau berkata,


كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُوْنَ رَسُوْلَ اللهِ عَنِ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِيْ.

"Para sahabat bertanya kepada Rasulullah a tentang kebaikan, se-dangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan; karena saya takut akan mendapatinya." (Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 3338; dan Muslim, no. 3434).

Artinya, sebagaimana seorang Muslim wajib mengetahui tauhid, dia juga wajib mengetahui syirik; tidak untuk melakukan syirik, tetapi demi membersihkan tauhidnya dari syirik tersebut dan demi senantiasa membentengi dirinya secara sangat kokoh.

Demikian juga, sebagaimana setiap Muslim wajib melaksanakan kewajiban-kewajiban pokok yang telah Allah tetapkan atas setiap Muslim, dia juga wajib menghindari apa saja yang dapat menggugurkan amal-amal wajib tersebut. Dan begitu seterusnya.

Jamaah Jum'at yang Dirahmati Allah
Hal-hal yang membatalkan amal ibadah (Muhbithat al-A'mal) ada dua kategori: pertama, yang membatalkan dan menggugurkan amal ibadah secara keseluruhan (atau Al-Muhbithat al-Kubra), dan kedua, yang membatalkan pahala amal yang bersangkutan saja (atau Al-Muhbithat ash-Shughra).

Berikut ini adalah apa saja yang membatalkan amal ibadah seorang Muslim secara keseluruhan, yang wajib kita ketahui dan senantiasa wajib kita hindari.

Pertama: Syirik (mempersekutukan Allah)
Tentu saja syirik ini adalah syirik besar (asy-Syirk al-Akbar), yang dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam. Sujud kepada ber-hala, meminta hujan kepada bintang, berdoa meminta sesuatu kepada kuburan, menyembelih hewan untuk jin dan roh-roh, berkeya-kinan bahwa keris anu dan tombak empu fulan memiliki kekuatan hebat, dan hal-hal semacamnya; semua itu adalah syirik besar yang membatalkan semua amal ibadah yang dilakukan seseorang. Shalat, puasa, haji dan sebagainya adalah sia-sia apabila disertai dengan perbuatan syirik seperti ini. Bahkan lebih dari itu pelakunya dianggap keluar dari Islam, bila yang bersangkutan tidak bertaubat dan kembali kepada Islam.
Perhatikan Firman Allah Ta’ala, yang secara tersurat dialamat-kan kepada para nabi, tapi sebenarnya adalah kepada kita semua,


وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

"Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelum kamu, 'Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan terhapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi'." (Az-Zumar: 65).

Alamat Firman ini adalah para nabi, termasuk Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam; artinya, apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saja yang telah diampuni dosanya yang telah lalu dan yang akan datang, menjadi batal amal ibadahnya kalau melakukan syirik, maka umat biasa seperti kita pastilah akan lebih parah lagi.

Dalam Zubdah at-Tafsir yang merupakan intisari dari tafsir Fathul Qadir karya asy-Syaukani, ketika menafsirkan ayat ini dikatakan, "Syirik, apabila merupakan sesuatu yang pasti menggugurkan amal para nabi, maka syirik akan menggugurkan amal selain mereka, dari umat-umat mereka adalah lebih pasti."

Dalam surat al-An'am ayat 88, setelah Allah mengisahkan tentang sejumlah para nabi; tentang dakwah mereka, kebaikan, keshalihan, keutamaan dan hidayah Allah kepada mereka, Allah mempertegas suatu pesan yang besar dengan FirmanNya,


ذَلِكَ هُدَى اللّهِ يَهْدِي بِهِ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَلَوْ أَشْرَكُواْ لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

"Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya. Dan (tetapi) seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan." (Al-An'am: 88).

Jamaah Jum'at yang Dirahmati Allah
Kedua (dari yang membatalkan amal secara keseluruhan) adalah: Kufur.
Yang dimaksud di sini, juga Kufur Akbar dan tidak termasuk di dalamnya Kufur Ashghar. Mengenai kufur Akbar, perhatikan Firman Allah Ta’ala,


وَمَن يَكْفُرْ بِالإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

"Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam), maka terhapuslah amal-amalnya dan dia di akhirat termasuk orang-orang merugi." (Al-Ma`idah: 5).

Berikut ini sebagian dari jenis Kufur Akbar yang wajib diwaspadai setiap Muslim:
Pertama, kufur karena mengingkari atau mendustakan, yang dalam istilah para ulama disebut Kufr al-Inkar wa at-Takdzib.

Persisnya, adalah apabila seorang Muslim yang mukallaf mengingkari atau mendustakan dengan hatinya atau lisannya suatu pokok agama, atau suatu hukum dari hukum-hukumnya, atau suatu berita wahyu yang dibawa al-Qur`an atau As-Sunnah yang telah disepakati keshahihannya oleh para ulama, maka dia adalah kafir berdasarkan ijma' para ulama. Maka mengingkari sesuatu dari rukun Islam, atau rukun Iman, mengingkari uluhiyah atau rububiyah Allah atau mengingkari salah satu dari nama-nama dan sifat-sifatNya, mengingkari haramnya zina atau riba, atau bahkan mengingkari halalnya poligami dan lain sebagainya; semua ini dapat mengantarkan seseorang kepada Kufur Akbar yang mengha-pus dan menggugurkan semua amal ibadahnya. Maka hendaklah berhati-hati orang-orang yang selama ini suka mengutak-atik Agama Allah, atas nama kebebasan berpendapat, atas nama demokrasi, atas nama hak individu, atau atas nama dan atas nama lainnya yang terkadang menimbulkan kekhawatiran besar di hati seorang da'i; bagaimana seorang Muslim bisa bersikap lancang seperti itu kepada Agama Allah.

Kedua, kufur karena sikap sombong, yang diistilahkan dengan Kufr al-Istikbar. Maksudnya, seseorang membenarkan pokok-pokok Islam dengan hati dan pernyataan lisannya, akan tetapi menolak untuk tunduk dengan anggota badannya kepada hukum-hukum-nya, karena rasa sombong dan angkuhnya. Orang seperti ini adalah kafir berdasarkan ijma' para ulama.

Contoh yang paling jelas adalah sikap iblis -la'natullah Alaihi-ketika Allah memerintahkannya untuk sujud kepada Nabi Adam ’alaihis Salam. Iblis tidak mengingkari Allah sebagai Tuhan alam semesta, tidak mengingkari Allah sebagai pencipta, pemberi rizki dan pengatur alam raya ini, tidak mengingkari bahwa Allah-lah yang berhak disembah, akan tetapi iblis hanya enggan dan bersikap sombong menyikapi perintah Allah, agar dia sujud kepada Adam ’alaihis Salam. Sikap sombong itu digambarkan Allah di dalam al-Qur`an, kata iblis -sebagaimana diabadikan Allah Ta’ala-,


قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلاَّ تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَاْ خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ

“Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu'. Iblis menjawab, 'Saya lebih baik daripadanya; Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah'." (Al-A'raf: 12).

Dalam ayat lain kesan angkuhnya lebih jelas,


وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلآئِكَةِ اسْجُدُواْ لآدَمَ فَسَجَدُواْ إَلاَّ إِبْلِيسَ قَالَ أَأَسْجُدُ لِمَنْ خَلَقْتَ طِيناً

"Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?" (Al-Isra`: 61).

Pertanyaan, tetapi sesungguhnya merupakan penolakan dan sikap sombong yang tidak pantas dilakukan oleh seorang makhluk kepada Rabbnya. Dan karena sikap sombongnya itulah Allah berfir-man dalam surat al-Baqarah ayat 34 dan surat Shad ayat 74 mem-beritakan tentangnya yang lalu menetapkan vonis atasnya,


وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُواْ لآدَمَ فَسَجَدُواْ إِلاَّ إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

"…kecuali iblis; ia enggan dan sombong dan ia termasuk golongan orang-orang yang kafir." (Al-Baqarah: 34).

Ketiga, kufur karena mencela dan mengolok-olok, yang dalam kitab-kitab akidah diistilahkan dengan Kufr as-Sabb wa al-Istihza`. Ialah bahwa seorang Muslim mengolok-olok atau mencela sesuatu dari Agama Allah, baik dengan perbuatan atau dengan perkataan.

Maka mencela Allah; mencela suatu nama dari nama-nama-Nya atau suatu sifat dari sifat-sifatNya, mengolok-olok atau men-cela Rasulullah a atau sesuatu dari sunnah beliau, seperti mengo-lok poligami yang beliau lakukan atau bahkan syariat poligami itu sendiri, mengolok kewajiban memendekkan pakaian agar tidak menutupi mata kaki, mengolok-olok sunnah memanjangkan jenggot, mengolok-olok kaum Muslimin yang melaksanakan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mencela Agama Allah atau bahkan sesuatu dari padanya; semua itu adalah bentuk-bentuk Kufr al-Istihza` yang dapat mengeluarkan seseorang dari Islam dan membatalkan semua amal ibadahnya.
Perhatikan peringatan Allah di dalam surat at-Taubah ayat 65-66,


وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ{65} لاَ تَعْتَذِرُواْ قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِن نَّعْفُ عَن طَآئِفَةٍ مِّنكُمْ نُعَذِّبْ طَآئِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُواْ مُجْرِمِينَ

"Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, 'Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.' Katakanlah, 'Apa-kah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu berolok-olok?' Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah ber-iman." (At-Taubah: 65 – 66).

Merupakan sebuah penegasan yang amat mengerikan bagi orang-orang Mukmin dan peringatan yang sangat menggetarkan bagi hati orang-orang yang takut kepada Allah Ta’ala.

Kaum Muslimin yang Dirahmati Allah
Yang Ketiga (Dari Yang Membatalkan Amal Seorang Muslim) adalah: Murtad dari Islam.
Allah Ta’ala dengan sangat gamblang menegaskan masalah ini di dalam FirmanNya,


وَمَن يَرْتَدِدْ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُوْلَـئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

"Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itu terhapus amal-amalnya di dunia dan akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya." (Al-Baqarah: 217).

Yang ketiga ini tidak perlu kita perjelas karena sudah sangat jelas; menjelaskan suatu yang jelas adalah sulit.

Yang Kempat: Kemunafikan (An-Nifaq).
Ialah kemunafikan akbar yang dapat mengeluarkan pelaku-nya dari Islam. Dan ini juga masalah yang sangat jelas dalam akidah Islam. Allah Ta’ala berfirman,


إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرا

"Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada ting-katan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka." (An-Nisa': 145)

Kelima: Lancang dengan bersumpah (memastikan hukuman) atas Nama Allah Ta’ala.
Imam Muslim meriwayatkan di dalam Shahihnya dari sahabat Jundab bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu,


أَنَّ رَسُوْلَ اللّهِ حَدَّثَ: أَنَّ رَجُلًا قَالَ: وَ اللّهِ لَا يَغْفِرُ اللّهُ لِفُلَانٍ، وَإِنَّ اللّهَ قَالَ: مَنْ ذَا الَّذِيْ يَتَأَلَّى عَلَيَّ أَنْ لَا أَغْفِرَ لِفُلَانٍ؛ فَإِنِّيْ قَدْ غَفَرْتُ لِفُلَانٍ وَأَحْبَطْتُ عَمَلَكَ .

"Bahwasanya Rasulullah a menceritakan, 'Bahwa ada seseorang berkata, 'Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si fulan', sedang-kan Allah justru berfirman, 'Siapa yang lancang mengatakan (atas namaKu) bahwa Aku tidak akan mengampuni fulan? Aku telah mengampuni si fulan dan Aku telah menggugurkan amalmu'." (Diriwayatkan oleh Imam Muslim, no. 4753)

Kemudian perhatikan hadits berikut ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan,


كَانَ رَجُلَانِ فِي بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ مُتَوَاخِيَيْنِ، فَكَانَ أَحَدُهُمَا يُذْنِبُ وَالْآخَرُ مُجْتَهِدٌ فِي الْعِبَادَةِ، فَكَانَ لَا يَزَالُ الْمُجْتَهِدُ يَرَى الْآخَرَ عَلَى الذَّنْبِ، فَيَقُولُ: أَقْصِرْ، فَوَجَدَهُ يَوْمًا عَلَى ذَنْبٍ، فَقَالَ لَهُ: أَقْصِرْ، فَقَالَ: خَلِّنِيْ وَرَبِّيْ، أَبُعِثْتَ عَلَيَّ رَقِيْبًا؟ فَقَالَ: وَاللّهِ لَا يَغْفِرُ اللّهُ لَكَ -أَوْ: لَا يُدْخِلُكَ اللّهُ الْجَنَّةَ- فَقَبَضَ أَرْوَاحَهُمَا فَاجْتَمَعَا عِنْدَ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، فَقَالَ لِهٰذَا الْمُجْتَهِدِ: أَكُنْتَ بِيْ عَالِمًا؟ أَوْ كُنْتَ عَلَى مَا فِي يَدِي قَادِرًا؟ وَقَالَ لِلْمُذْنِبِ: اِذْهَبْ فَادْخُلِ الْجَنَّةَ بِرَحْمَتِيْ، وَقَالَ لِلْآخَرِ: اِذْهَبُوْا بِهِ إِلَى النَّارِ.

"Dahulu ada dua orang laki-laki bersaudara di tengah Bani Israil, salah seorang dari keduanya suka berbuat dosa, sedangkan yang seorang lagi rajin beribadah. Yang rajin beribadah tersebut terus melihat yang satunya lagi suka berbuat dosa, sehingga dia sering berkata (menasihatinya), 'Berhentilah (melakukan dosa)', dan suatu hari dia mendapatkannya tengah melakukan dosa, dan dia berkata kepadanya, 'Berhentilah (melakukan dosa)'. Akan tetapi (orang yang ditegur) menimpalinya dengan mengatakan, 'Biarkan aku (ini adalah urusanku) dengan Rabbku, apakah kamu diutus sebagai pengawas bagi diriku?' Maka (karena kesal) yang rajin beribadah itu berkata kepadanya, 'Demi Allah, Allah tidak akan mengam-punimu'-atau dia mengatakan, 'Allah tidak akan memasukkanmu ke dalam surga'-. Maka Allah mengambil nyawa mereka berdua lalu (kelak) akan bersama menghadap kepada Allah Rabb semesta alam. Firman Allah kepada yang rajin beribadah itu, 'Apakah kamu tahu tentang Aku? Ataukah kamu punya kuasa terhadap apa yang ada di TanganKu?' Kepada yang suka berbuat dosa itu Allah berfirman, 'Pergilah dan masuk ke dalam surga dengan rahmatKu', sedangkan untuk yang rajin beribadah itu (karena kelancangannya tersebut) Allah firmankan (kepada para malaikat), 'Bawalah dia masuk ke dalam neraka'." (Diriwayatkan oleh Ahmad, no. 8093 dan Abu Dawud, no. 4901, serta dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud).

Keenam: Lancang terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan meninggikan suara melebihi suara beliau.
Mengenai ini Allah memberikan peringatan yang keras di dalam KitabNya,


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَن تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepa-danya dengan suara keras seperti kerasnya (suara) sebagian kalian terhadap sebagian yang lain, supaya amalmu tidak terhapus sedang-kan kamu tidak menyadari." (Al-Hujurat: 2).

Mengangkat suara saja di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melebihi suara beliau dapat membatalkan dan menggugurkan amal ibadah seseorang, apalagi lebih dari itu.

Mungkin seseorang akan berkata, "Itu kan dulu, di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup dan bagi orang-orang yang hidup bersama beliau. Apakah itu masih relevan untuk kita sekarang?"

Masalah ini dijawab oleh seorang ulama besar, Imam al-Qadhi Abu Bakar Ibnul Arabi. Kata beliau, "Kehormatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam setelah wafatnya adalah seperti kehormatan beliau ketika masih hidup, dan kemuliaan sabda beliau yang diriwayatkan (al-Hadits) sama dengan kemuliaan sabda beliau yang didengar melalui ucapan beliau secara langsung. Maka apabila sabda beliau disampaikan (dibacakan), setiap orang yang ada (yang hadir) wajib untuk tidak mengangkat suaranya dan tidak berpaling daripadanya, sebagai-mana yang mesti dia lakukan di tengah majelis beliau ketika beliau mengucapkannya secara langsung." (Dinukil oleh Imam al-Qurthubi dalam tafsir beliau 8/200, cet. Maktabah at-Taufiqiyah).

Camkan baik-baik perkataan agung dari Imam Ibnul Arabi ini. Perkataan yang harus senantiasa kita ingat agar kita senantiasa menempatkan sabda-sabda Nabi kita a di tempat yang mulia dan terhormat, kemudian menyikapinya sebagaimana seorang sahabat menyikapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau bersabda, berikut menerimanya sebagaimana seharusnya seorang Muslim menerima wahyu, menjadikannya sebagai sumber hukum, dan bahkan sebagai tolok ukur dan hakim di dalam perbedaan pandangan di kalangan umat.

Imam al-Qurthubi kemudian menjelaskan, "Mengangkat suara di hadapan Nabi shallallah ‘alaihi wasallam yang dimaksud, bukan dimaksud untuk meremehkan atau mengolok-olok; karena itu sudah jelas merupakan kekufuran."

Karena itu, hendaklah berhati-hati orang-orang yang selama ini meremehkan sabda-sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, karena itu adalah suatu kekufuran dan paling tidak dapat menggugurkan pahala ibadah.

Adalah tidak pantas bagi seorang Muslim, yang beriman kepada Allah dan RasulNya menyikapi sabda-sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hanya sebagai isu, hanya sebagai bahan pelengkap, hanya sebagai penghias makalah-makalah batil, hanya sebagai pembenaran pandangan kita. Maka jangan heran, misalnya, kalau kita pernah men-dengar ada orang yang mengatakan, "Hadits 'Semua bid'ah adalah sesat dan semua kesesatan adalah di neraka' tidak sesuai untuk disampaikan di hadapan masyarakat Indonesia, karena ini akan memecah belah umat dan esensi yang kontra produktif."
Ini adalah kelancangan yang sangat berbahaya yang seharusnya kita senantiasa berhati-hati daripadanya. Semua itu agar kita tidak termasuk di antara orang-orang yang amal ibadahnya gugur dan sia-sia.

Kaum Muslimin Rahimakumullah
Poin ini perlu kita perlebar, agar menjadi lebih jelas bagaimana seharusnya seorang Muslim menyikapi sabda-sabda Nabi atau dengan ungkapan yang lebih tepat, hadits-hadits-Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Pertama, tidak diperkenankan bagi seseorang, ketika mendengar suatu hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menolaknya; dengan anggapan bahwa itu adalah konsep kontra produktif, atau tidak sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia, atau dengan alasan apa pun.

Kedua, tidak diperkenankan bagi seseorang untuk mendahu-lukan atau lebih memilih perkataan seseorang dari pada hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sekalipun orang tersebut adalah salah seorang di antara imam-imam ahli ilmu.

Perhatikan perkataan Imam asy-Syafi'i rahimahullah. Beliau berkata,
"Kaum Muslimin telah ijma' bahwasanya barangsiapa yang telah jelas baginya suatu sunnah (hadits) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya karena mengambil pendapat seseorang."

Imam Ahmad rahimahullah juga berkata,
"Barangsiapa menolak hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka dia sedang berada di tebing jurang kebinasaan."

Dua perkataan agung ini dan perkataan-perkataan serupa, bahkan juga dari Imam Malik bin Anas dan Imam Abu Hanifah, dapat kita lihat secara rinci dengan takhrij dan penjelasannya di dalam mukadimah kitab Shifatu Shalat an-Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam karya al-Imam al-Muhaddits, al-Albani rahimahullah.

Ketiga, barangsiapa yang berani lancang terhadap hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ketahuilah bahwa itu adalah tanda yang sangat jelas bahwa orang tersebut telah binasa, yang di dalam hatinya telah terjangkit penyakit yang sangat berbahaya, bahkan boleh jadi telah digerogoti oleh kekufuran.

Keempat, kelima dan seterusnya tentu saja tidak urgen untuk disebutkan secara detail di dalam khutbah Jum'at yang sunnahnya memang dipendekkan seringkas dan sepadat mungkin.

Jamaah Jum'at yang Dirahmati Allah
Semua itu tadi harus kita usahakan untuk dihindari, agar kita menjadi orang-orang yang senantiasa disayang Allah, diberkati dan mendapat ampunanNya.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ, إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah yang kedua

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَلَّى اللَّّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا

Hadirin Jamaah Jum'at Rahimakumullah
Perhatikan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,


مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.

"Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal yang tidak didasari oleh Agama kami, maka amal tersebut tertolak." (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dan ini adalah lafazh Muslim).

Kedua: Mendatangi dan bertanya tentang sesuatu kepada tukang ramal atau dukun.
Tentang ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,


مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً.

"Barangsiapa yang datang kepada tukang ramal (dukun) lalu ber-tanya tentang sesuatu kepadanya, maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh malam (dan hari)." (Diriwayatkan oleh Mus-lim, no. 2230).
Dan tentu masih banyak lagi yang lainnya.

Jamaah Jum'at yang Dirahmati Allah

Jangan lupa untuk bershalawat atas Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabat beliau serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai Hari Kiamat nanti.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَصَلىَّ اللهُ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ تَسْلِيمًا كَثِيرًا وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ اْلحَمْدُ لِلهِ رَبِّ اْلعَالمَِينَ.

(Dikutib dari Buku Kumpulan Khutbah Jum’at Pilihan Setahun Edisi ke-2, Darul Haq Jakarta. Telp. 021-84998039. Diposting oleh: Abu Nabiel).

Sumber : http://www.alsofwah.or.id/?pilih=lihatkhutbah&id=178




Kamis, 16 Juli 2009

NGERINYA NERAKA

Oleh: Waznin Mahfud
KHUTBAH PERTAMA


إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ ...

فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.

Hadirin Jama'ah Jum'at Rahimakumullah!
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita, sebab takwa itulah yang menjadi bukti bahwa kita benar-benar beriman.
Allah Ta’ala berfirman,


يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepadaNya; dan janganlah sekali-kali kamu mati me-lainkan dalam keadaan beragama Islam." (Ali Imran: 102).

Takwa adalah jaminan kebahagiaan bagi hidup kita di dunia dan di akhirat. Allah Ta’ala berfirman,


يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan RasulNya, maka sesungguh-nya ia telah mendapat kemenangan yang besar." (Al-Ahzab: 70-71).
Untuk itu, marilah kita perkokoh ketakwaan kita sehingga Allah berkenan memenuhi janjiNya untuk kita, yaitu kebahagiaan di akhirat dan dijauhkan dari siksaan neraka.

Hadirin Rahimakumullah!
Sesungguhnya rasa takut kita kepada siksa neraka adalah hidayah agung dari Allah yang diberikan kepada kita yang patut disyukuri, demi kewaspadaan dan kehati-hatian kita di dalam menempuh jalan hidup yang lurus dan benar.

Mari kita mencoba mengetahui beberapa poin penting yang berkaitan dengan neraka, agar keimanan kita bertambah dan selalu berusaha meninggalkan maksiat-maksiat yang dapat menjerumus-kan kita ke salah satu jurangnya yang sangat dalam. Sebab, kejahilan kita terhadap hakikat neraka akan membuat kita menyepelekan faktor-faktor berbahaya yang dapat membuat kita menjadi salah satu dari penghuni tempat sadis tersebut. (Na’udzubillah min dzalik)

Yang pertama, neraka adalah sebuah tempat (yang sangat luas yang diciptakan oleh Allah) untuk menyiksa hamba-hamba-Nya (yang bermaksiat, membangkang maupun kafir kepadaNya), dan neraka itu terus merasa kurang untuk diisi, sampai Allah Ta’ala meletakkan (tapak) kakiNya, kemudian neraka berkata, "Cukup, cukup!" (Sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

Yang kedua, neraka mempunyai tujuh pintu, setiap pintu itu akan dimasuki oleh golongan-golongan pembangkang dan pelaku maksiat tertentu.
Allah Ta’ala berfirman,


لَهَا سَبْعَةُ أَبْوَابٍ لِّكُلِّ بَابٍ مِّنْهُمْ جُزْءٌ مَّقْسُومٌ

"Jahanam itu mempunyai tujuh pintu, tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka." (Al-Hijr: 44).

Yang ketiga, panasnya neraka. Panasnya tak terhingga, karena dihidupkan selama seribu tahun sehingga warnanya menjadi putih, kemudian dihidupkan selama seribu tahun lagi sehingga warnanya berubah menjadi merah, dan dihidupkan kembali selama seribu tahun lagi sehingga menjadi hitam. Mari kita bayangkan, alangkah panasnya neraka, sehingga warnanya pun bisa menjadi hitam kelam. Tak ada satu pun makhluk yang ada di atas bumi ini yang sanggup menahan panas yang begitu dahsyat ini.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan,


نَارُكُمْ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِيْنَ جُزْءًا مِنْ نَاِر جَهَنَّمَ.

"Neraka kalian adalah satu bagian dari tujuh puluh bagian dari Neraka Jahanam." (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Panas api saat ini, membuat baja yang begitu keras dan kokoh bisa menjadi meleleh. Lalu bagaimana dengan tubuh-tubuh kita yang begitu lembek, ditambah dengan kadar panas yang melebihi dari panas dunia seukuran tujuh kali lipat?

Hadirin Sidang Jum’at yang Dimuliakan Allah

Poin yang keempat adalah, kobaran api neraka yang menyala-nyala. Api neraka berkobar sangat dahsyat, dan menyambar semua penghuninya tanpa belas kasihan.
Allah Ta’ala berfirman,


إِنَّهَا تَرْمِي بِشَرَرٍ كَالْقَصْرِ. كَأَنَّهُ جِمَالَتٌ صُفْرٌ

"Sesungguhnya neraka itu melontarkan bunga api sebesar dan setinggi istana, seolah-olah ia iringan unta yang kuning." (Al-Mursalat: 32, 33).

Di samping itu, api neraka juga bisa marah dan menggeram-geram ketika melihat rombongan calon penghuninya yang digiring untuk memasuki tempat tinggal mereka.
Allah Ta’ala berfirman,


إِذَا رَأَتْهُم مِّن مَّكَانٍ بَعِيدٍ سَمِعُوا لَهَا تَغَيُّظاً وَزَفِيراً

"Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar kegeramannya dan suara nyalanya."(Al-Furqan: 12).

Yang kelima, bahan bakar neraka terdiri dari manusia dan bebatuan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman di dalam surat Al-Baqarah,


فَاتَّقُواْ النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ

"Peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang yang kafir." (Al-Baqarah: 24).

Yang keenam, sebagaimana neraka merupakan jurang dan lembah, maka dia mempunyai kedalaman. Jarak kedalamannya sejauh kita melempar batu dari pinggir neraka ke dalam jurang neraka selama tujuh puluh tahun. Satu keterangan dari sahabat Abu Hurairah menjelaskan,


كُنَّا مَعَ رَسُوْلِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذْ سَمِعَ وَجْبَةً فَقَالَ النَّبِيُّ : أَتَدْرُونَ مَا هَذَا؟ قَالَ: قُلْنَا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: هَذَا حَجَرٌرُمِيَ بِهِ فِي النَّارِ مُنْذُ سَبْعِيْنَ خَرِيْفًا فَهُوَ يَهْوِي فِي النَّارِ الْآنَ حَتَّى انْتَهَى إِلَى قَعْرِهَا.

"Ketika kami sedang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba beliau mendengar suara dentuman, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, 'Apakah kalian tahu suara apa ini?' Kami menjawab, 'Hanya Allah dan RasulNya yang paling tahu!' Beliau menjelaskan, 'Ini adalah batu yang dilemparkan ke dalam neraka, sejak tujuh puluh tahun yang lalu, kemudian ia melayang di dalam neraka, sekarang ini ia sampai pada dasarnya'." (HR. Muslim, 7096).

Yang ketujuh, penjaga neraka.
Allah Ta’ala berfirman,


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa ang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (At-Tahrim: 6).

Hadirin jama'ah Shalat Jum'ah rahimakumullah!

Yang kedelapan, badan penghuni neraka.
Untuk merasakan siksaan abadi yang dahsyat di neraka itu, maka tubuh para penghuni neraka dibesarkan, dan setiap kali kulit-kulit mereka telah menjadi hangus dan gosong, maka dia akan di-ganti dengan kulit yang lainnya, agar siksaan itu benar-benar terasa oleh mereka.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,


ضِرْسُ الْكَافِرِ أَوْ نَابُ الْكَافِرِ مِثْلُ أُحُدٍ وَغِلَظُ جِلْدِهِ مَسِيْرَةُ ثَلاَثٍ.

"Gigi geraham orang kafir atau gigi taring orang kafir (di Hari Kiamat, di neraka) adalah sebesar gunung Uhud dan tebal kulitnya sejauh perjalanan tiga hari." (HR. Muslim).
Allah Ta’ala berfirman,


إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ بِآيَاتِنَا سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَاراً كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُوداً غَيْرَهَا لِيَذُوقُواْ الْعَذَابَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَزِيزاً حَكِيماً

"Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (An-Nisa`: 56).

Yang kesembilan, makanan penduduk neraka adalah berupa Zaqqum, yaitu buah dari sebatang pohon yang keluar dari dasar Neraka Jahim, jika penduduk neraka memakan buah itu maka perut-perut mereka akan mendidih, dikarenakan panasnya buah Zaqqum tersebut. Dengan demikian tidak akan penduduk neraka yang mendapatkan rasa kenyang, bahkan mereka akan lebih merasa lapar dan haus.
Dan Allah Ta’ala berfirman,


إِنَّ شَجَرَةَ الزَّقُّومِ. طَعَامُ الْأَثِيمِ. كَالْمُهْلِ يَغْلِي فِي الْبُطُونِ. كَغَلْيِ الْحَمِيمِ

"Sesungguhnya pohon zaqqum itu, makanan orang yang banyak berdosa. (Ia) sebagai kotoran minyak yang mendidih di dalam perut, seperti mendidihnya air yang sangat panas." (Ad-Dukhan: 43-46).
Allah Ta’ala berfirman,


إِنَّا جَعَلْنَاهَا فِتْنَةً لِّلظَّالِمِينَ. إِنَّهَا شَجَرَةٌ تَخْرُجُ فِي أَصْلِ الْجَحِيمِ. طَلْعُهَا كَأَنَّهُ رُؤُوسُ الشَّيَاطِينِ. فَإِنَّهُمْ لَآكِلُونَ مِنْهَا فَمَالِؤُونَ مِنْهَا الْبُطُونَ. ثُمَّ إِنَّ لَهُمْ عَلَيْهَا لَشَوْباً مِّنْ حَمِيمٍ

"Sesungguhnya ia adalah sebatang pohon yang keluar dari dasar Neraka Jahim. Mayangnya seperti kepala setan-setan. Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengan buah zaqqum itu. Kemudian sesudah makan buah pohon zaqqum itu pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengan air yang sangat panas." (Ash-Shaffat: 63–67).

Hadirin Jama'ah Rahimakumullah!

Yang kesepuluh, minuman penduduk neraka adalah minuman yang tidak membuat rasa dahaga terobati, tidak mendapat kesejukan dan kesegaran. Minuman mereka adalah nanah yang sangat panas, yang akan membuat perut orang yang meminumnya menjadi terburai.
Allah Ta’ala berfirman,


لَّا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْداً وَلَا شَرَاباً . إِلَّا حَمِيماً وَغَسَّاقاً. جَزَاء وِفَاقاً

"Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman, kecuali air yang mendidih dan nanah, sebagai pembalasan yang setimpal." (An-Naba`: 24–26).

Allah Ta’ala juga berfirman, yang artinya,
"Kemudian sesudah makan buah pohon zaqqum itu pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengan air yang sangat panas". (Ash-Shaffat: 67).

Serta Allah Ta’ala juga berfirman,


مِّن وَرَآئِهِ جَهَنَّمُ وَيُسْقَى مِن مَّاء صَدِيدٍ. يَتَجَرَّعُهُ وَلاَ يَكَادُ يُسِيغُهُ وَيَأْتِيهِ الْمَوْتُ مِن كُلِّ مَكَانٍ وَمَا هُوَ بِمَيِّتٍ وَمِن وَرَآئِهِ عَذَابٌ غَلِيظٌ

"Di hadapannya ada Jahanam dan dia akan diberi minuman dengan air nanah, diminumnya air nanah itu dan hampir dia tidak bisa menelannya dan datanglah (bahaya) maut kepadanya dari segenap penjuru, tetapi dia tidak juga mati; dan di hadapannya masih ada azab yang berat." (Ibrahim: 16–17).

Minuman itu betapa menyakitkan, menambah derita, dan menghancurkan tubuh mereka.

Siksaan bagi penduduk neraka sangatlah bervariasi, tetapi semua siksaan itu tidak ada yang ringan, sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa siksaan yang paling ringan adalah, apabila bara api neraka diletakkan di bagian lekuk telapak kaki seseorang maka otaknya akan mendidih. Sabda Rasulullah,


إِنَّ أَهْوَنَ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَرَجُلٌ تُوْضَعُ فِي أَخْمَصِ قَدَمَيْهِ جَمْرَةٌ يَغْلِي مِنْهَا دِمَاغُهُ.

"Sesungguhnya azab yang paling ringan yang menimpa penduduk neraka pada Hari Kiamat adalah apabila bara api diletakkan di lekuk kedua telapak kaki seseorang, maka otaknya akan mendidih." (HR. al-Bukhari).

Mereka akan memakan bara api sepenuh perut mereka, diakibatkan tindakan mereka di dunia memakan harta anak yatim dengan cara yang zhalim, Allah Ta’ala berfirman,


إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْماً إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَاراً وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيراً

"Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zhalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)." (An-Nisa`: 10).

Muka-muka dan punggung-punggung mereka dipukuli oleh para malaikat, tanpa mengenal rasa belas kasihan,


وَلَوْ تَرَى إِذْ يَتَوَفَّى الَّذِينَ كَفَرُواْ الْمَلآئِكَةُ يَضْرِبُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَدْبَارَهُمْ وَذُوقُواْ عَذَابَ الْحَرِيقِ

"Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata), 'Rasakan olehmu siksa neraka yang membakar, (tentulah kamu akan merasa ngeri)'." ( Al-Anfal: 50).

Ada juga di antara mereka yang disiksa dengan disetrika lam-bung dan punggung mereka dengan emas serta perak yang tidak mereka zakatkan ketika mereka berada di dunia.

Di antara mereka pun ada yang disiksa dengan dicambuk tanpa henti dengan besi-besi panas, setiap kali mereka akan keluar, mereka digiring kembali untuk merasakan cambuk-cambuk besi ter-sebut.

Ada juga yang dibelitkan rantai api Neraka Jahanam ke leher-leher mereka dan tangan-tangan mereka, serta rantai terebut dibe-lenggukan di kaki-kaki mereka. Siksaan itu tiada berkesudahan, bersambung, dan bersambung sepanjang hari.

Hadirin Rahimakumullah!
Itulah kedahsyatan neraka dan siksaan neraka, tidak ada seorang makhluk pun yang mampu menanggung beban pedih dan sakit dari siksaan itu, maka marilah kita senantiasa memohon per-lindungan kepada Allah agar dijauhkan dari siksaanNya. .

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ, إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah yang kedua

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَلَّى اللَّّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا

Hadirin Jamaah Jum'at Rahimakumullah
Di dalam khutbah yang kedua ini, setelah kita memohon perlindungan dari siksa neraka, marilah kita senantiasa memohon taufik kepada Allah agar diri kita, segenap anggota keluarga kita, masyarakat kita, dan seluruh umat Islam, terutama para pemimpin bangsanya, semuanya mendapatkan hidayah dan ma'unah untuk melaksanakan ibadah dengan benar, beramal shalih dengan tulus ikhlas, serta menjauhi segala bentuk kemaksiatan yang menyebab-kan kita terjerumus ke dalam neraka.

Marilah kita bertaubat, marilah kita bersihkan hati dan jiwa kita dari:
1. Kekufuran, kemunafikan, kesyirikan, riya, sihir, dan seba-gainya.
2. Kesombongan, keangkuhan, ujub, egois, mementingkan diri sendiri, (bakhil, kikir).
3. Hasad, iri, dengki, putus asa, marah, dan dendam.

Marilah kita jaga mulut kita dari:
1. Dusta, bohong, adu domba, ghibah, gosip, berbicara tanpa ada manfaat atau berlebihan, mengejek, menghina, mengumpat, durhaka, bicara jorok, menuduh, bersumpah palsu, dan khianat.
2. Bergurau, banyak tertawa, banyak lelucon, sehingga kurang sekali berdzikir.

Marilah kita jaga tangan dan seluruh anggota tubuh kita dari perbuatan zhalim, kita jauhkan dari perbuatan yang merusak diri sendiri dan orang lain, seperti memakan riba, mencuri, korupsi, membunuh, berjudi, mabuk-mabukan, berbuat zhalim, tidak ber-sifat adil, suap-menyuap, berzina, bermusuhan, boros, berfoya-foya, tidak mempedulikan fakir miskin dan anak yatim.

Marilah kita menjauhkan diri dari cara-cara mencari nafkah yang batil atau yang haram, kita jauhi riba, dan segala bentuk jual beli yang batil, menipu, curang, dan sebagainya, sehingga kita hanya mencari dan mendapatkan nafkah, rizki yang halalan thayyibah, mu-barakah, yang nantinya dapat digunakan sebagai bekal beramal shalih sebanyak-banyaknya di dunia, dan di akhirat, kita dijauhkan dari Api Neraka. Amin Allahumma Amin.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَصَلىَّ اللهُ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ تَسْلِيمًا كَثِيرًا وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ اْلحَمْدُ لِلهِ رَبِّ اْلعَالمَِينَ.

(Dikutib dari Buku Kumpulan Khutbah Jum’at Pilihan Setahun Edisi ke-2, Darul Haq Jakarta. Telp. 021-84998039. Diposting oleh: Abu Nabiel).


Kamis, 02 Juli 2009

MERAIH AMPUNAN

Oleh: Izzudin Karimi, Lc.

KHUTBAH PERTAMA:


إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ ...

فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.

Sidang Jum'at Rahimakumullah
Kesalahan dan dosa bagi manusia adalah suatu kelaziman. Tidak ada manusia yang ma'shum, setebal apa pun tingkat keimanannya, seluas apa pun ilmunya dan sedalam apa pun ketakwaannya kepada Allah, selama dia adalah manusia, dia pasti suatu kali akan melakukan kesalahan dan dosa. Allah memang tidak berkehendak menciptakan manusia dalam keadaan bersih dari kesalahan dan sempurna dari dosa, karena Allah hanya mengingin-kan kesempurnaan untuk diriNya. Persoalan sebenarnya bukan pada manusia yang berdosa dan bersalah, akan tetapi apa yang dilakukan setelah dosa dan kesalahan tersebut? Fiman Allah Ta’ala,

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُواْ أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُواْ اللّهَ فَاسْتَغْفَرُواْ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللّهُ وَلَمْ يُصِرُّواْ عَلَى مَا فَعَلُواْ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

"Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui." (Ali Imran: 135).

Nabi Adam telah mengukir keteladanannya dalam hal ini, bukan pada pelanggarannya terhadap larangan Allah, akan tetapi pada apa yang dia lakukan setelah dia melakukan pelanggaran tersebut. Sebagaimana telah kita ketahui bahwa Adam bersama istrinya diizinkan oleh Allah tinggal di surga. Allah melarangnya mendekati satu pohon yang ada di sana, tetapi Adam melanggar-nya karena bujuk rayu setan, akan tetapi setelah itu Adam menye-sali dan menyadari kesalahannya serta memohon ampun kepada Allah. Allah mengampuninya dan Adam pun menjadi lebih mulia dan lebih baik dari sebelumnya. Firman Allah Ta’ala,


ثُمَّ اجْتَبَاهُ رَبُّهُ فَتَابَ عَلَيْهِ وَهَدَى

"Kemudian Rabbnya memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk." (Thaha: 122).

Sidang Jum'at Rahimakumullah
Di sisi lain, manakala Allah menciptakan Bani Adam dengan kesalahan dan dosanya, Dia pun membuka peluang perbaikan se-lebar-lebarnya. Dia memanggil dan mengajak hamba-hambaNya agar memanfaatkan peluang tersebut sebaik-baiknya. Dan peluang ini senantiasa terbuka siang-malam sepanjang umur manusia atau umur dunia ini. Peluang tersebut adalah taubat untuk meraih ampunan Allah Ta’ala.
Firman Allah Ta’ala,


وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ

"Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepa-daNya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi)." (Az-Zumar: 54).
Dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wasallam, Allah Ta’ala berfirman,


يَا عِـبَادِيْ، إِنَّكُمْ تُخْطِئُوْنَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْـفِـرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا فَاسْتَغْفِـرُوْنِيْ أَغْـفِـرْ لَكُمْ.

"Wahai hamba-hambaKu, sesungguhnya kalian melakukan kesalahan siang-malam dan Aku mengampuni seluruh dosa, oleh karena itu mohonlah ampun kepadaKu, niscaya Aku mengampuni kalian." (HR. Muslim dari Abu Dzar, Mukhtashar Shahih Muslim, no. 1828).

Sidang Jum’at Rahimakumullah
Jika Allah mengajak kepada ampunan, berjanji memaafkan dan membuka pintunya lebar-lebar, sementara kita manusia selalu berdosa, maka tidak sekedar layak, akan tetapi sangat layak kalau kita mengetuk pintu tersebut dengan harapan Dia berkenan melim-pahkan maafNya kepada kita semua, sesungguhnya Dia Maha Pengasih lagi Pemurah.
Sekarang bagaimana caranya agar kita dapat menggapai am-punan tersebut?
Banyak cara dan jalan menggapai ampunan Allah. Lebih dari itu, cara-cara dan jalan-jalan tersebut adalah sangat mudah, tergantung kepada kita sendiri, ingin atau tidak ingin. Di sini khatib memaparkan empat cara yang menurut pandangan khatib merupakan cara yang paling penting dan mendasar.

Sidang Jum'at Rahimakumullah
Cara pertama : Taubat
Jika Allah menghendaki, tidak ada dosa yang tidak terhapus oleh taubat, seberat dan se-besar apa pun ia, jangankan dosa-dosa kecil, dosa-dosa besar pun akan terhapus oleh taubat bahkan dosa tertinggi dalam Islam, syirik, juga akan terhapus oleh taubat dengan catatan kesyirikan tersebut tidak dibawa mati. Lihatlah kepada sebagian sahabat Nabi yang di masa jahiliyah adalah orang-orang penyembah berhala. Begitu mereka bertaubat darinya, mereka pun menjadi manusia terbaik umat ini. Tengoklah seorang laki-laki dari umat terdahulu -seperti yang dikisahkan oleh Rasulullah- pembunuh seratus nyawa. Adakah di dunia ini pelaku dosa yang lebih besar dan lebih banyak darinya? Dosanya adalah pembunuhan dan korbannya adalah seratus nyawa. Laki-laki tersebut dengan dosanya itu tetap meraih ampunan Allah dengan taubatnya dan usaha kerasnya untuk memperbaiki diri yang dia buktikan dengan berhijrah ke kota lain yang bisa mendu-kung usahanya tersebut.

Sidang Jum'at Rahimakumullah
Taubat yang bagaimanakah yang dengannya seseorang dapat meraih ampunan Allah?
Yaitu taubat yang memenuhi lima syarat:
1). Ikhlas: Maksudnya adalah, hendaknya pemicu taubat adalah harapan terhadap pahala Allah dan kekhawatiran terhadap azab-Nya.

2). Penyesalan, dan bukti penyesalan adalah harapan seandai-nya dia tidak melakukannya.

3). Meninggalkan dosa-dosa, jika dosa karena meninggalkan suatu kewajiban maka taubatnya dengan melakukan yang mungkin dilakukan, dan jika dosa karena melakukan suatu larangan, maka dengan meninggalkannya, dan termasuk meninggalkan adalah meminta maaf kepada orang yang kita zhalimi dan mengembalikan haknya kepadanya. Ini jika dosa tersebut di antara sesama.

4). Niat kuat untuk tidak mengulangi

5). Taubat dilakukan sebelum pintunya ditutup. Kapan itu? Jika nafas seseorang telah sampai di kerongkongan dan jika matahari terbit dari barat.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,


مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا تَابَ اللّهُ عَلَيْهِ.

"Barangsiapa bertaubat sebelum matahari terbit dari barat, maka Allah akan mengampuniNya." (HR. Muslim, Mukhtashar Shahih Muslim, no. 1920).
Dari Abdullah bin Umar dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,


إِنَّ اللّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ.

"Sesungguhnya Allah Ta’ala menerima taubat seorang hamba selama nafasnya belum sampai di kerongkongan." (HR. at-Tirmidzi, no. 3537. At-Tirmidzi berkata, "Hadits hasan.").

Taubat yang memenuhi lima syarat inilah yang menghadirkan ampunan Allah bagi pelakunya.

Sidang Jum'at Rahimakumullah.
Cara kedua: Perbuatan-perbuatan baik.
Satu perbuatan baik dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat, lebih dari itu bisa sampai tujuh ratus kali lipatnya bahkan berkali-kali lipat yang Allah kehendaki. Sementara satu kejahatan hanya dibalas dengan semisalnya, maka benar-benar celaka dan binasa orang-orang yang balasan kejahatannya mengungguli kebaikannya. Bagaimana tidak, kebaikan yang dilipatgandakan segitu rupa bisa dikalahkan oleh kejahatan yang hanya dibalas dengan semisalnya.
Firman Allah Ta’ala,

r
مَن جَاء بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَن جَاء بِالسَّيِّئَةِ فَلاَ يُجْزَى إِلاَّ مِثْلَهَا وَهُمْ لاَ يُظْلَمُونَ

"Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa per-buatan jahat, maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (di-rugikan)." (Al-An'am: 160).
Firman Allah,


وَأَقِمِ الصَّلاَةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفاً مِّنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّـيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ

"Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya per-buatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat." (Hud: 114).
Sabda Nabi,


وَأَتْبِعِ السَّـيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا.

"Ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik niscaya ia menghapusnya." (HR. at-Tirmidzi no. 1988 dari Muadz bin Jabal. At-Tirmidzi berkata, "Hadits hasan," dihasankan oleh al-Albani di Shahih al-Jami', no. 97 dan Syu'aib al-Arna`uth ditahqiq Riyadh ash-Shalihin, no. 61).

Berikut ini adalah beberapa contoh kebaikan penghadir ampunan Allah.
Tauhid. Tauhid adalah kebaikan, bahkan ia adalah dasar kebaikan. Segala kebaikan dunia dan Akhirat merupakan buah dari tauhid, di samping itu ia adalah penyebab diraihnya ampunan Allah Ta’ala.
Dalam sebuah hadits qudsi Allah Ta’ala berfirman,


يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ مَا دَعَـوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِيْ غَـفَـرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ مِنْكَ وَلَا أُبَالِيْ، يَا ابْنَ آدَمَ، لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوْبُكَ عِـنَانَ السَّمَاءِ، ثُمَّ اسْتَغْـفَـرْتَنِيْ، غَـفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِيْ، يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِيْ بِقُـرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا، ثُمَّ لَقِيْتَنِيْ لَا تُشْرِكُ بِيْ شَيْئًا، لَأَتَيْتُــكَ بِـقُـرَابِهَا مَغْـفِـرَةً.

"Wahai anak Adam, selama kamu berdoa dan berharap kepadaKu niscaya Aku mengampuni dosa-dosamu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu mencapai awan di langit, kemudian kamu memohon ampun kepadaku, niscaya Aku meng-ampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya kamu datang kepadaKu dengan membawa dosa sepenuh jagat, kemudian kamu bertemu denganKu dalam keadaan tidak menyekutu-kanKu dengan sesuatu pun, niscaya Aku akan memberimu ampunan sepenuh jagat pula." (HR. at-Tirmidzi, no. 3534 dari Anas. At-Tirmidzi berkata, Hadits hasan dinyatakan kuat oleh Syaikh Syu'aib al-Arnauth dalam tahqiqnya atas Riyadh ash-Shalihin, no. 1878).

Sidang Jum'at Rahimakumullah
Di antara kebaikan yang dengannya ampunan Allah diraih adalah syahadah (gugur sebagai syahid di jalan Allah). Rasulullah bersabda,


يَغْفِـرُ اللّهُ لِلشَّهِيْدِ كُلَّ ذَنْبٍ إِلَّا الدَّيْنَ.

"Allah mengampuni seluruh dosa orang yang mati syahid, kecuali hutang." (HR. Muslim dari Ibnu Amr bin al-Ash, Mukhtashar Shahih Muslim, no. 1084).

Hutang dikecualikan karena perkaranya di antara sesama manusia, dan perkara yang demikian dikembalikan kepada pemilik hak.

Sidang Jum'at Rahimakumullah
Di antara kebaikan yang dengannya ampunan Allah diraih adalah berangkat ke masjid untuk menunaikan shalat fardhu berjamaah setelah sebelumnya bewudhu di rumah dengan sempurna. Rasulullah bersabda,


مَنْ تَوَضَّـأَ لِلصَّلَاةِ فَأَسْبَغَ الْوُضُوْءَ ثُمَّ مَشَى إِلَى الصَّلَاةِ الْمَكْتُوْبَةِ فَصَلاَّهَا مَعَ النَّاسِ أَوْ مَعَ الْجَمَاعَةِ أَوْ فِي الْمَسْجِدِ غَـفَـرَ اللّهُ ذُنُوْبَهُ.

"Barangsiapa berwudhu untuk shalat, dia menyempurnakan wudhu-nya, kemudian dia berjalan menuju shalat fardhu, lalu dia melaksa-nakannya bersama kaum muslimin atau dengan berjamaah atau di masjid, niscaya Allah mengampuni dosa-dosanya." (HR. Muslim, Mukhtashar Shahih Muslim, no. 132).

Sidang Jum'at Rahimakumullah
Kebaikan-kebaikan yang dengannya seseorang meraih ampunan Allah tidak terbatas pada ketiga perkara di atas. Agama kita kaya dengan kebaikan-kebaikan yang dengannya kita meraih am-punan Allah, bukan di sini kesempatan merincinya satu demi satu.

Sidang Jum'at Rahimakumullah
Cara meraih ampunan Allah yang ketiga adalah menjauhi dosa-dosa besar. Dosa besar adalah semua dosa yang diancam hukuman had di dunia atau mengundang murka dan laknat Allah atau diancam dengan azab akhirat. Apabila dosa dengan kriteria seperti ini dihindari, maka hal itu menjadi penyebab diraihnya ampunan dari Allah. Firman Allah Ta’ala.


إِن تَجْتَنِبُواْ كَبَآئِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُم مُّدْخَلاً كَرِيماً

"Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang kamu dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (Surga)." (An-Nisa`: 31).
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,


اَلصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ.

"Shalat lima waktu, Jum'at ke Jum'at, Ramadhan ke Ramadhan adalah pelebur dosa di antaranya selama dosa-dosa besar dihindari." (HR. Muslim dari Abu Hurairah. Lihat Mukhtashar Shahih Muslim, no. 203).


أَقُوْلُ قَوْلِي هَذا أَسْتَغْفِرُ اللهَ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ

KHUTBAH KEDUA :


إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَلَّى اللَّّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا

Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah
Cara keempat meraih ampunan Allah adalah istighfar, memohon ampun kepada Allah. Istighfar sangat efektif dalam menangkal azab Allah. Firman Allah Ta’ala,


وَمَا كَانَ اللّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

"Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun." (Al-Anfal: 33).

Oleh karena itu pula, para Nabi mengajak kaumnya kepada istighfar. Salah satunya adalah Nabi Nuh Alaihis Salam. Nuh berkata,


فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّاراً

"Maka aku katakan kepada mereka, 'Mohonlah ampun kepada Rabb-mu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun'." (Nuh: 10).

Juga Nabi Shalih, dia mengajak kaumnya kepada istighfar. Allah Ta’ala berfirman tentangnya,


قَالَ يَا قَوْمِ لِمَ تَسْتَعْجِلُونَ بِالسَّيِّئَةِ قَبْلَ الْحَسَنَةِ لَوْلَا تَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

"Hendaklah kamu meminta ampun kepada Allah agar kamu menda-pat rahmat." (An-Naml: 46).

Rasulullah sendiri bahkan beristighfar seratus kali dalam sehari, meskipun beliau telah meraih jaminan ampunan Allah atas dosa-dosa yang lalu dan yang akan datang. Beliau bersabda,


وَإِنِّيْ لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ.

"Sesungguhnya aku benar-benar beristighfar kepada Allah seratus kali dalam satu hari." (HR. Muslim dari al-Muzani, Mukhtashar Shahih Muslim, no. 1916).

Jika Rasulullah yang telah dijamin ampunan oleh Allah tetap beristighfar dalam hitungan di atas, lantas bagaimana dengan kita yang tidak mendapatkan jaminan tersebut?

Sidang Jum'at Rahimakumullah
Hendaknya kita semua berusaha sungguh-sunggguh meraih ampunan Allah demi diri kita. Ampunan Allah adalah lebih baik daripada dunia dan segala isinya.


وَلَئِن قُتِلْتُمْ فِي سَبِيلِ اللّهِ أَوْ مُتُّمْ لَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّهِ وَرَحْمَةٌ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

"Dan sungguh kalau kamu gugur di jalan Allah atau meninggal, tentulah ampunan Allah dan rahmatNya lebih baik (bagimu) dari harta rampasan yang mereka kumpulkan." (Ali Imran: 157).


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَصَلىَّ اللهُ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ تَسْلِيمًا كَثِيرًا وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ اْلحَمْدُ لِلهِ رَبِّ اْلعَالمَِينَ
Dikutib dari Buku Kumpulan Khutbah Jum’at Pilihan Setahun Edisi ke-2, Darul Haq Jakarta/assofwah

AL QURAN ONLINE

Anda bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

SILATURRAHIM

ShoutMix chat widget

MasNuHu Radio

  • Masnuhu Radio, Jernihkan Hati Gapai Ridho Ilahi
    Dengarkan Dengan Winamp
  • Anda Pengunjung Ke :

     

    Template by NdyTeeN